Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 3 of BTStober 2020
Stats:
Published:
2020-10-03
Words:
852
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
7
Bookmarks:
1
Hits:
108

katumbiri

Summary:

Tema pemotretan hari ini adalah spektrum.

[BTStober. Day 3: Colors]

Notes:

Day 3: Katumbiri
jungkook jadi model, taehyung di bagian tata busana. happy reading!
.
BTS bukan punya saya, mereka adalah idol di bawah naungan agensi Big Hit Entertainment. Tidak ada keuntungan komersil macam apa pun atas pembuatan fanfiksi ini.

Work Text:

[biru]

“Barusan bilang apa?”

Perubahan mendadak, model hari ini diganti dengan Jeon Jungkook.

“Siapa?”

Jeon Jungkook!” Suara Seokjin lewat sambungan ponsel meninggi, Taehyung sampai harus berjengit dan agak menjauhkan ponselnya sendiri dari telinga. “Cepat ke sini, sepuluh menit lagi telat aku potong gajimu.

“Ap—yak, Hyung!”

Pip, sambungan terputus sepihak dari Seokjin.

“Yang benar saja!” Taehyung menatap layar ponsel tidak percaya, kelima jarinya mengerat tanpa sadar. Seakan ia melampiaskan segala rasa terkejut, kesal, dan panik yang tiba-tiba saja reuni di sudut hati.

Jeon Jungkook?

Taehyung membatin, apa sih yang dipikirkan si atasan Kim Seokjin itu? Di antara model yang lain (yang punya wajah ganteng, Taehyug diam-diam meringis), kenapa harus Jeon Jungkook?

Kenapa harus ...

“Argh!” erang Taehyung, menampar satu pipinya sebelum kemudian berlari secepat mungkin setelah lampu hijau bagi pejalan kaki menyala. Antara mengejar waktu gara-gara ancaman soal gaji dari Seokjin atau si model dadakan Jeon Jungkook; Taehyung memilih keduanya.

Ia mendongak sejenak lalu berdecak kesal, padahal langit sedang biru-birunya dan cuaca hari ini bagus sekali.

Sayang mood-nya malah jadi kelabu.

.

[ungu]

Tema pemotretan hari ini adalah spektrum.

Maka ketika Taehyung diminta Seokjin untuk menjadi penanggung jawab bagian tata busana, ia lekas menerimanya dengan senang hati. Sebab orang selalu bilang kalau isi kepala Kim Taehyung seolah penuh oleh palet warna selaiknya kamus berjalan.

Namun, sewaktu ia menginjakan kaki ke ruang rias dan mendapati Jeon Jungkook duduk di salah satu kursi, poni terjepit seperti pohon apel dan wajahnya belum dipoles riasan apa pun; mendadak warna-warna pakaian yang dipilih Taehyung untuk jadwal pemotretan hari ini jadi buyar dalam sekejap mata.

Terlebih ketika sang model menoleh hingga mata mereka bertemu.

“Oh, lama tidak jumpa ya, Kim Taehyung.”

Taehyung mencelos, apa-apaan coba senyum pria itu.

“Hai juga, Koo—Jungkook-ssi.” Deham canggung. “Saya lihat kabar Anda baik-baik saja.”

Bola mata Jungkook berotasi malas. “Hentikan bahasa formal itu,” dia mendecih kecil. “Padahal dulu kalau sedang orgasme kau kan sukanya teriak-te—”

“HENTIKAN AAAAAAAAAAA!”

Astagaaaa, bisa-bisanya Jeon Jungkoooook!

Alih-alih berhenti, Jungkook malah makin menjadi. “Tidak usah malu begitu, Taehyung.” Dia meraih earbuds ungu di atas meja rias dan mengetuk-ngetuk layar ponsel, lalu kembali melirik Taehyung yang sedang kelimpungan. “Cepat sini rias wajahku.”

“Akan ada perias—”

Kau. Ke sini atau aku bilang pada Seokjin-hyung pemotretannya tidak jadi.”

“Apa sih kau ini, hah? Bocah?!”

“Satu,”

“Jungkook-ssi,”

“Dua, Jin-hyu—”

“Baik-baik! Aku rias sekarang juga!”

Taehyung mengutuk keras dalam hati, tetapi diam-diam mencuri pandang pada earbuds ungu yang terjejal di salah satu telinga Jungkook, menatapnya lama, setelah itu mendengus pelan.

Ia tidak menyangka Jungkook masih akan menyimpannya dengan baik hingga saat ini, duh.

.

[kuning]

“Aku tidak suka warna cerah begini.”

“Kuning cocok untuk nuansa musim gugur, jangan bawel.” Untung kedua tangannya masih bisa ditahan agar tidak segera melayangkan pukulan di wajah Jungkook, Taehyung berusaha sabar. “Lagipula kuningnya juga tidak terlalu cerah dan tidak norak.”

Jungkook menatap kardigan rajut yang tengah dikenakannya, menimang apakah pernyataan soal warna kuning tadi dapat diterima atau tidak. Taehyung harap-harap cemas, tapi selang sekon kemudian ia bernapas lega begitu tanggapan Jungkook nihil.

Tak lama, model muda itu meraih dasi sewarna daun gugur di antara tiga pilihan warna lain dan menyerahkannya pada Taehyung tanpa ragu.

Cengir Jungkook muncul begitu lugas. “Pakaikan.”

Taehyung tidak jadi bernapas lega.

.

[hijau]

Tiga jam setelah pemotretan berlangsung, jam istirahat makan siang tiba.

Taehyung lelah, lebih ke arah batin dibandingkan fisik. Jeon Jungkook dan segala sifat seenak jidat, jahil, dan amat sangat menyebalkannya itu benar-benar membuat kewarasan Taehyung terkuras habis. Ia bahkan jadi tidak nafsu makan, tapi juga tidak ingin kena omelan Seokjin kalau sampai tahu ia melewatkan makan siang.

Dan kini, Taehyung lebih terkejut lagi kala menemukan sekotak jajangmyeon, jus jeruk kalengan, dan potongan-potongan stroberi di atas meja kerjanya. Kening Taehyung berkerut samar, ia tidak ingat sempat membeli semua makanan ini. Apa mungkin Seokjin?

Tidak, tidak, pria itu terlalu sibuk.

Ada selembar post-it sewarna rumput segar yang menempel di kaleng jusnya, termasuk sederet kalimat dan tulisan yang telah Taehyung hafal dengan baik di luar kepala.

Di sana tertulis; makan yang benar ya, mantan—(beserta titik dua dan tanda kurung tutup).

Aih.

.

[jingga]

Walau begitu, memang bukan main profesionalitasnya Jeon Jungkook.

Dia bisa mengikuti arahan fotografer dengan sangat baik, berekspresi mengikuti tema dengan sangat baik, dan bepose tanpa terlihat kikuk dengan sangat baik pula.

Misal, sekarang ini.

“Jungkook-ssi, tolong buat ekspresi seolah-olah Anda sedang jatuh cinta pada pandangan pertama.”

Semula mata Jungkook mencari-cari, beredar ke segala penjuru ruangan. Tepat pada sekon momentum cerkas mata itu menemukan sepasang palet gelap Taehyung, bibir Jungkook mengulas senyum simpul. Meski tidak tipis, tidak juga lebar dalam bentuk jenaka.

Bagai paku-paku menahan kedua kakinya, Taehyung tertegun.

(Pun tidak seharusnya dentum-dentum di jantungnya bergerak lebih cepat.)

“Ya, bagus! Tahan Jungkook-ssi.”

Seokjin muncul di samping Taehyung beberapa sekon kemudian. “Mukamu jadi warna jingga, Taehyung.”

“Eh?”

.

[merah]

Bahu Taehyung tersentak pelan. Entah mengapa ia tidak suka seringai jahil di wajah Seokjin.

“Yah,” katanya, “jingga dekat dengan merah. Supaya kau fokus, jadi aku sebut saja jingga.” Ada tawa renyah mengudara, lalu matanya beralih kepada Jungkook dan berteriak tanpa tedeng aling-aling. “Jungkook! Jangan lihat Taehyung terus, malu katanya!”

“SEOKJIN-HYUNG!”

Senyum Jungkook benar-benar bertambah lebar kali ini, bahkan hingga matanya menyipit lugu.

Damn, Taehyung merasa pipinya panas sekali.

Series this work belongs to: