Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of marchmellow 2024
Collections:
Marchmellow 2024
Stats:
Published:
2024-03-03
Words:
2,240
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
9
Bookmarks:
1
Hits:
119

hearts bounded, souls threaded

Summary:

Benang merah itu tampaknya bukan khayalan Sooyoung belaka.

Akan tetapi, apakah ketika jiwamu saling terhubung, tetapi hatimu mengatakan tidak, benang merah itu akan memudar luntur dan menghilang dengan sendirinya?

Notes:

the author claims no profit gained in the making of this fanworks.

Work Text:

RECIPE 1

 

Empat tahun yang lalu, Kim Dongyoung menekan bel apartemen Park Sooyoung dengan tangan yang penuh memeluk kantong kertas berisi telur, tepung, bubuk kakao, dan saripati jagung.

 

Sooyoung pun membuka pintunya sambil tertawa. “Banyak sekali.”

 

Wajah Doyoung tersenyum lebar. “Sebagiannya punyaku. Boleh sekalian latihan di sini?”

 

Sooyoung melebarkan pintunya, mengizinkan masuk seperti biasa, seolah apartemen sempitnya juga selalu menjadi rumah untuk Doyoung. “Boleh.”

 

“Memasak sendirian kurang seru.”

 

“Hmmm,” Sooyoung bersenandung riang sambil berjalan menuju dapur lagi, “asal jangan saat ujian besok kamu juga mencontek resepku.”

 

“Maaf-maaf saja, kalau soal itu, aku juga punya dessert- ku sendiri.” Doyoung pun meletakkan bahan-bahan titipan Sooyoung sekaligus miliknya di atas konter dapur. Lusa adalah ujian persiapan kenaikan tingkat untuk mahasiswa semester ganjil tahun ini, dengan ketentuan dessert dari Prancis yang bisa dipilih sendiri. Sooyoung baru menyadari bahan-bahannya hampir habis, dan kebetulan Doyoung meneleponnya untuk menawarkan apakah Sooyoung ingin sekalian dibelikan bahan ketika dia sedang berada di supermarket.

 

“Mau bikin apa?” Sooyoung mengambil telur, butter, dan ekstrak vanilla yang dibelikan oleh Doyoung.

 

“Tarte normande.” Doyoung mengulum senyum sambil mengambil sebuah mangkuk untuk persiapan. Dia bisa mengambil barang apapun di dapur Sooyoung sambil menutup mata dan tidak melakukan kesalahan. Pun sebaliknya, Sooyoung mudah sekali mengingat letak barang-barang di dapur Doyoung karena pemuda itu sangat teratur.

 

“Tart apel?” Sooyoung terkekeh. “Andalanmu.” Sooyoung tidak perlu bertanya untuk tahu; semua berasal dari cerita Doyoung yang begitu mudah membuka diri untuknya. Tart apel adalah dessert pertama yang dia buat ketika masih SMP, dan kakaknya sangat menyukainya. Tart apel adalah definisi rumah nun jauh di Seoul yang Doyoung rindukan.

 

“Kamu?” Doyoung berusaha menebak dengan melihat barisan bahan yang telah disiapkan Sooyoung. “Pastry?”

 

Sooyoung mengacungkan telunjuknya dan menggoyangkannya. “Ding dong, salah.” Sooyoung pun membuka wadah bubuk kakao, menghidunya dengan riang. Aroma kesukaan Sooyoung, Doyoung telah hafal dari hari pertama. “Mille feuille.”

 

“Tidak beda jauh,” Doyoung mengangkat bahu. Dia pun mengerling. “Pouvons-nous commencer maintenant?”

 

Sooyoung mengangguk. “Yang nanti dapat nilai lebih rendah untuk hasil ujiannya, harus bayar reservasi di Le Train Bleu.”

 

Doyoung mengerutkan hidungnya, tetapi tetap tersenyum, “Aku tidak akan kalah.”

 

Mereka sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Doyoung mencampurkan butter dan gula dengan mixer, menambahkan telur, tepung, dan garam setelahnya, sementara Sooyoung mencampurkan adonan dengan cara manual. Sesekali, dia mendengar Doyoung bernyanyi dengan suara pelan. Pemuda itu pernah bercerita, setengah berkelakar, seandainya dia tidak memutuskan untuk menjadi pattisier dan bersekolah di Paris, dia akan mencoba peruntungan dengan menjadi penyanyi atau idol.

 

Sooyoung kadang bertanya-tanya soal takdir. Jika seandainya ada satu hal yang mengubah pikiran Doyoung waktu itu, akankah segalanya berbeda sampai saat ini? Akankah mereka menjadi dua orang asing, meskipun berasal dari negara dan kota yang sama, yang sangat asing dan tak pernah bertemu sama sekali?

 

Doyoung menaruh adonannya ke dalam tart pan sambil menyenandungkan lagu pengiring drama yang baru-baru ini dia ceritakan. Sooyoung mengenalinya, dan ia pun ikut bersenandung pelan. Doyoung meninggikan suaranya, Sooyoung mengiringi dengan suara rendah sambil menyiapkan adonannya untuk didiamkan di dalam mangkuk. Saat itulah Doyoung menoleh, dia nyengir lebar sambil mencolek sisa adonan di bibir mangkuk, mencicipinya.

 

Sooyoung tersenyum puas ketika Doyoung mengangguk-angguk sambil bergumam, enak. Dan ia pun balas melakukannya dengan mencolek adonan dari mangkuk Doyoung pula. Ia mengangguk ketika Doyoung bertanya lewat tatapan, apakah rasanya dapat diterima? Takarannya benar? Tidak terlalu banyak telur?

 

Setelah rasa itu meresap ke dalam lidahnya, kemudian Sooyoung menemukan sesuatu yang aneh.

 

Jalinan merah pada kelingking mereka, saling mengikat dan berpendar lembut, seolah keberadaannya tersembunyi oleh kabut tipis.

 


 

Benang merah itu tampaknya bukan khayalan Sooyoung belaka. Sekian bulan ia mencoba mengabaikan hal tersebut; mencoba untuk tidak tahu-menahu ketika warna merah itu muncul di antara mereka sewaktu-waktu, mengabaikan senyuman Doyoung ketika mereka bersama, dan mencoba lupa sebisanya, ia selalu melihatnya lagi dan lagi.

 

Suatu sore, ketika mereka sedang berada di kelas terakhir sebelum masa magang, di mana satu mahasiswa dipasangkan dengan mahasiswa lain untuk membuat serangkaian menu penutup, Sooyoung berbisik pada Doyoung setelah membuka gulungan kertas berisi nama pasangannya.

 

“Psst. Kamu dapat siapa?”

 

Doyoung menyebut nama teman seangkatan mereka, seorang mahasiswa dari Inggris.

 

“Ow.” Sooyoung mengerutkan hidung. “Aku harus bersama Michael.”

 

Doyoung melirik ke balik bahunya. “Turut bersedih. Dia tidak masuk kelas lima kali berturut-turut, kan?”

 

Sooyoung meringis. “Dia tidak pernah benar-benar menyimak. Ingat kelas yang chaos karena dia membuat seorang patissier senior nyaris keracunan?”

 

Doyoung menepuk pundak Sooyoung. “Semoga tidak ada yang aneh-aneh. Good luck.”

 

Sooyoung melihat Doyoung pergi dengan rasa kesal sekaligus sedih. Warna merah menghubungkan mereka, sesaat berpendar, kemudian menghilang ketika Sooyoung mengerjapkan matanya. Seandainya saja kertas undiannya bertuliskan nama Doyoung. Ia pun melintasi kelas, mencari teman timnya yang ia harap tidak akan mewujudkan firasat buruknya.

 


 

Namun tidak semuanya seperti harapan Sooyoung. Rekan timnya tidak bisa bekerja sama dengan baik, menyerahkan semuanya pada dirinya, dan ia terpaksa bekerja sendiri. Tidak ada yang bisa Sooyoung lakukan lagi karena dia menghilang di setengah tugas, tak lagi kembali ke dapur. Dosennya memarahinya karena tidak bisa menjaga kekompakan tim, dan alih-alih menghukum Michael, Sooyoung harus rela nilai rata-ratanya turun karena rekan yang payah.

 

“Dia yang harusnya dihukum, tapi ujung-ujungnya dia cuma dapat nilai rendah!” Sooyoung mengadu, hanya bisa pada Doyoung karena tak seorang pun akan mengerti. Ia lebih senang mengomel dan merutuk dengan bahasa ibunya sendiri, sebuah keuntungan sekaligus kerugian di negeri orang. “Ini tidak adil!”

 

Doyoung cuma diam saja, dia menyerahkan kotak tisu pada Sooyoung sembari terus mendengarkan. Sooyoung menggumpalnya dengan marah seusai menyeka sudut mata dan pipinya.

 

“Aku yang bersusah-susah sendiri, dia pergi begitu saja tapi tetap dapat nilai? Aku benci ini!”

 

Agak lama Doyoung membiarkannya, sampai Sooyoung melemparkan gumpalan tisu sekenanya ke meja ruang tengah apartemennya. Doyoung pun menengok wajah Sooyoung. “Sudah nangisnya?”

 

Sooyoung mencebik. Doyoung cuma menggeleng-geleng, kemudian memeluknya, memusut punggungnya.

 

Saat itu, Sooyoung berharap pada banyak hal. Pada benang tipis berkabut yang sesekali menghubungkan mereka. Pada pelukan Doyoung, pada keberadaannya yang selalu memastikan bahwa dirinya baik-baik saja. Pada setiap kemurahan hati yang ditawarkan Doyoung. Dulunya, ia menepis dan berkilah bahwa mungkin Doyoung melakukan ini semua karena hanya Sooyoung satu-satunya teman satu negara di perantauan seberang benua. Mungkin Doyoung hanya baik hati dan tidak ingin membiarkan satu-satunya teman pertamanya di Paris berjuang sendirian.

 

Namun, apakah Doyoung juga melihat hal yang sama, sehingga dia melakukan semua ini?

 

Saat itu, empat tahun yang lalu, Sooyoung begitu berharap.

 


 

RECIPE 2

 

Sooyoung bertanya-tanya, andai waktu itu ia mengatakannya pada Doyoung, apakah saat ini ia akan tetap melihat pemuda itu mendekati wanita lain, seorang staf personalia muda di hotel tempat mereka bekerja di Seoul sekarang, setelah menyelesaikan studi mereka di Paris akhir tahun lalu?

 

Apakah Doyoung akan percaya padanya, soal tali pengikat yang datang dan pergi seolah-olah menggoda Sooyoung dengan kenyataan sekaligus khayalan dalam satu waktu?

 

Sooyoung baru saja memulai shift, datang pada siang menjelang sore untuk mempersiapkan menu penutup pada reservasi khusus tamu-tamu penting dari Jepang petang nanti, dan Doyoung baru saja menyelesaikan pekerjaan siangnya. Dia tak melihat kedatangan Sooyoung di pintu belakang karena terlalu asyik berbicara dengan perempuan tersebut, yang juga satu angkatan dengan mereka saat mengikuti seleksi penerimaan. Mereka berjalan pulang, berbelok ke arah yang berbeda dari kedatangan Sooyoung, dan Doyoung pun berbisik di depan telinganya sambil tertawa.

 

Sooyoung melihat jejak merah yang menyala di antara mereka berdua, menghilang di balik tembok tempat Sooyoung terakhir melihat Doyoung.

 

Akankah, akankah semuanya berbeda jika Sooyoung mengatakannya waktu itu?

 

Apakah ketika jiwamu saling terhubung, tetapi hatimu mengatakan tidak, benang merah itu akan memudar luntur dan menghilang dengan sendirinya?

 


 

Seharusnya kukatakan saja padamu.

 

Namun Doyoung merasa tak punya waktu lagi: Sooyoung pulang bekerja bersama seseorang yang tidak Doyoung kenal malam itu. Sooyoung memasuki mobil hitam yang menjemputnya, dan Doyoung sempat melihat pria yang berada di kursi kemudi. Masih muda, seperti mereka, mungkin pernah dilihatnya satu-dua kali sebagai tamu hotel. Mungkin kolega salah satu manajer mereka.

 

Doyoung melihat mobil itu melaju, dan tali merah yang menjadi samar, berpendar sebentar, kemudian hilang seolah-olah tak pernah ada. Kabut tipis yang menyelubungi benang tersebut segera buyar, mobil yang ditumpangi Sooyoung pun menghilang di belokan, dan dia termangu.

 

Seandainya saja, waktu Sooyoung mencecap kue tart apel yang dibuatnya dan memujinya, Doyoung mengatakan bahwa apakah kamu selalu memujiku karena kita saling terhubung? apakah dia akan menemukan kenyataan yang berbeda?

 


 

RECIPE 3

 

Setelah masa pelatihan berakhir dan jadwal disusun ulang, Sooyoung mendapat shift yang sama dengan Doyoung untuk mempersiapkan menu penutup. Supervisor mereka yang tegas melarang semua staf untuk melakukan pembicaraan apapun selama bekerja bahkan saat menunggu mendiamkan adonan atau memanggang, sehingga Doyoung hanya bisa menatapnya dari sudut mata setiap kali dia punya kesempatan.

 

Lima puluh flan, lima puluh tart kecil, lima puluh puding, lima puluh palmier, dan lima puluh macarons disiapkan sore itu, Doyoung ingin sekali membicarakan tentang tart yang diberi potongan apel kecil pada setiap porsinya pada Sooyoung; tentang nostalgia dapur sempit di sudut Paris yang mereka gunakan bersama di malam-malam untuk berlatih atau sisa-sisa tart yang mereka jadikan sarapan ketika mereka terjebak di cuaca yang buruk dengan stok makanan yang kosong.

 

Begitu makanan selesai disajikan, dan dapur dibersihkan oleh staf yang bersangkutan, Doyoung baru punya waktu, mendekati Sooyoung yang sedang membantu menyeka meja persiapan yang masih belum disentuh staf pembersihan.

 

“Hei.”

 

Sooyoung mengerling. Betapa Doyoung harap pria di mobil tempo hari tidak pernah memperhatikan detail seindah ini dari Sooyoung: kerlingan matanya dan sudut bibirnya yang terangkat membentuk senyum tipis. 

 

“Lepaskan saja maskermu. Sudah boleh, kok,” Sooyoung menunjuk pada wajah Doyoung. “Apa kabarmu?”

 

Cubitan pada hatinya dia abaikan; meski rasanya begitu tidak nyaman: apakah dirinya dan Sooyoung sudah sejauh itu sampai mereka harus bertanya kabar?

 

“Baik-baik saja,” jawab Doyoung hambar. “Kamu? Kelihatannya kamu punya teman-teman baru.”

 

Sooyoung tertawa kecil. “Toi, aussi.”

 

Doyoung tersenyum. Pertanyaan tentang apakah itu pacar barumu? terhenti begitu saja di kerongkongannya. Dia telan kembali, rasanya seperti gumpalan besar yang pahit.

 

Sooyoung berhenti membersihkan meja ketika staf datang di antara mereka, dan ia pun mundur, melepaskan apron dan sarung tangannya. “Rasanya sudah lama kita tidak makan bersama.”

 

Doyoung mengedikkan bahu. “Buat apa makan bersama di luar kalau kita bisa memasak?”

 

“Oh ya ampun, apakah kamu tidak mau libur barang sehari saja?”

 

Doyoung tergelak. Tanpa sadar, dia menggosokkan tangannya di apron. “Baru-baru ini aku mencoba tarte à la citrouille. Lumayan enak. Mau coba?”

 

“Tart labu? Kamu berhenti suka tart apel?”

 

“Mencoba hal baru tidak selamanya salah.”

 

Sooyoung mengulum senyum.

 

“Kamu boleh bawa pacarmu kalau dia mau mencoba.”

 

“Pacar?” Sooyoung hampir tersedak ludahnya sendiri. “Non. Bicara apa kamu, Kim Dongyoung?”

 

Doyoung benci melihat ini: tiba-tiba saja benang merah itu berpendar. Dia menggenggam kuat sejumput kain!

 apronnya tanpa sepenuhnya dia sadari. “Yang waktu itu—”

 

“Kolega Papa. Dia menawarkan partnership buat kafenya di sekitar Gangnam. Dia minta masukan dariku … sedikit.”

 

“Oh.” Doyoung tidak tahu harus merasa lega atau marah pada dirinya sendiri, yang mendadak merasa menang karena alasan yang tidak jelas. “Kalau begitu, hari liburmu kapan?”

 

“Sama denganmu, hm?” Sooyoung mengangguk tanpa alasan. “Hanya kita berdua?”

 

Giliran Doyoung yang mengangguk cepat. “Je n’ai personne d’autre.”

 

Senyuman Sooyoung terkembang lebih lebar.

 


 

RECIPE 4

 

Doyoung berharap senyuman itu hanya untuknya. Tidak boleh ada yang melihat senyuman seindah ini ketika Sooyoung mencicipi adonan tart labu yang baru separuh jadi itu. Rasa cintanya pada makanan manis dan lirikannya ketika Doyoung ingin memastikan rasa; semua itu seharusnya miliknya.

 

“Bagaimana?”

 

“Oke.” Sooyoung mengangguk dengan antusias. “Ingat waktu kita jajan pertama kali di sekitar Champs-Élysées? Persis!”

 

“Pujian yang bagus,” Doyoung mengangguk, lalu mengambil mangkuk adonan dari tangan Sooyoung, “tapi ini baru setengah jadi. Simpan saja pujiannya buat nanti.”

 

Sooyoung mengamati gerak-gerik Doyoung yang menyelesaikan adonan tersebut, menaruhnya ke dalam tuangan tart untuk kemudian dipanggang. Ia selalu berusaha mencari benang merah yang suka seenaknya itu. Kadang dia terlihat di saat-saat yang tak ingin Sooyoung pedulikan, tetapi dia akan menghilang setiap kali Sooyoung sungguh-sungguh ingin mengamatinya.

 

“Dongyoung-ah.”

 

“Mmm?” Doyoung menyetel timer ovennya. “Ada apa?”

 

“Kamu pernah—ah, lupakanlah.”

 

Doyoung berbalik, berdiri tegak memunggungi ovennya. “Katakan saja.” Dia menyeka tangannya dengan kain yang diraihnya dari atas meja.

 

“Lupakan saja,” Sooyoung berpura-pura sibuk membereskan bekas adonan yang berantakan di sekitar meja. “Tidak terlalu penting. Kamu mau kopi? Kubelikan di bawah.”

 

“Mau. Nanti kita bareng ke bawah. Aku cuci tangan dulu.”

 

Sooyoung membeku, merasa bahwa Doyoung bisa membacanya dengan mudah.

 

“Tapi kamu bilang dulu apa yang mau kamu katakan barusan.”

 

“Tidak usah. Tidak penting.”

 

“Pasti penting. Kamu tidak pernah bicara basa-basi.”

 

Mengesalkan ketika orang lain bisa mengingat detail tentangnya lebih mudah daripada dirinya sendiri. Sooyoung menarik napas panjang. “Kamu percaya dongeng tentang belahan jiwa?”

 

Doyoung tertawa kecil. “Terus?”

 

“Ya itu saja. Tidak penting, kan? Jadi ayo beli kopi.”

 

“Soal belahan jiwa, penting atau tidak, semua tergantung hati, hm?”

 

“... Maksudmu?”

 

“Meski jiwa tertaut, kalau hatimu tidak memilih, sulit.”

 

“Kalau kamu berada di posisi itu, siapa yang akan kamu dengarkan?” Sooyoung menelan ludah. Rasa adonan tart labu masih tersisa di mulutnya, dan itu Doyoung sekali. “Hatimu, atau jiwamu?” Ia gelisah. Ia berusaha mencari benang merah berpendar itu, tetapi ia tidak menemukan apapun. Jangan-jangan selama ini semuanya hanya khayalannya?

 

“Hati.” Doyoung mengangkat kelingkingnya. “Karena hatiku selalu tahu ke mana jiwaku akan menemukan separuh dirinya.”

 

Sesaat kemudian, selubung kabut tipis itu tersingkap, memperlihatkan pendar yang sangat Sooyoung kenal. Ia sontak tersenyum, kemudian berjalan mendekat pada Doyoung. Tidak peduli apakah pemuda itu melihatnya atau tidak—mungkin tidak, karena tampaknya dia tak tahu-menahu pada apa yang sedang diamati Sooyoung—tetapi ia segera menautkan kelingkingnya pada kelingking Doyoung. “Janji, Dongyoung-ah.”

 

Doyoung tertawa kecil. “Janji apa?”

 

“Teruslah membuat kue bersamaku.”

 

Doyoung mengayunkan tautan kelingking mereka. “Sampai kapan?”

 

“Sampai kita merasa bosan pada satu sama lain.”

 

“Janji yang berat, Sooyoung-ah.”

 

“Tapi aku tidak membuatmu berjanji sesuatu yang berbahaya.”

 

“Tentu saja itu berbahaya,” Doyoung mengangkat alis. “Karena itu artinya selamanya.”

 

“Oh, kamu mau selamanya bersamaku?”

 

Tawa Doyoung begitu renyah. “Sepertinya, hatiku memilih begitu.”

Series this work belongs to: