Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of dan akan kugenggam kau melintasi musim
Stats:
Published:
2025-07-04
Words:
307
Chapters:
1/1
Kudos:
1
Hits:
15

musim semi.

Summary:

salju meleleh dan terselip di balik jemari kita yang tertaut, mekar menjadi harap dan mimpi yang baru, dan akan kunanti esok hari denganmu. —guy/azuma

Notes:

azuguy + spring = what a time to be alive. anyways i have never experienced spring before. aha.

Work Text:

Azuma meneguk segelas sake, gelas keduanya sejak botol itu dibuka oleh Tsumugi. Hangat menjejaki tenggorokannya, menjalari kulitnya yang tidak tertutup di tengah angin musim semi yang masih sedikit menggigit.

Meski begitu, hari ini masih cukup indah bagi Rombongan Musim Dingin untuk keluar asrama dan menikmati mekarnya bunga di bawah langit biru teduh. Cukup hangat untuk dinikmati selagi ia duduk mengamati rekan-rekan teaternya berbincang tentang apa saja. Tentang lesapnya dingin salju di bawah jemari yang menghangat dan hal-hal yang mereka nantikan di bawah awan yang berarak dan hamburan kelopak yang bermekaran, memupuk semangat yang akan bertunas menjadi cita-cita yang baru.

Perasaan itu juga menyelinap ke dalam diri Azuma, meniti jalan menuju celah rusuknya, untuk kemudian berdiam di balik jantungnya dan mencipta hangat yang lebih familiar. Hangat yang sewarna cokelat dan giok, yang sudah menjadi presensi konstan di dalam hidupnya.

Dalam hatinya, ia mengujar harap untuk kehangatan yang sama di musim semi-musim semi berikutnya.

Jemari Azuma menyusuri telapak tangan Guy, turun hingga bersemayam di sela-sela jemari miliknya, tertaut layaknya sepasang kepingan puzzle yang niscaya; erat, lekat, selaras. 

Sebuah kelopak merah muda tertiup angin, naik dan turun layaknya ombak, sebelum akhirnya tertambat di pucuk kepala sewarna salju. Azuma tidak tahu itu, tapi ada sepasang giok yang menangkapnya dalam pandangan, sudah sejak lama bahkan sebelum kedua telapak mereka bertemu.

Ia merasakan atensi tersebut, memberikan lirikan kepada si pelaku. Sudut bibir Azuma membentuk kurva lengkung kecil. "Suka dengan pemandangannya?"

Di ujung netranya, ada senyum yang mekar layaknya sakura di musim semi. Guy mengeratkan telapak tangan mereka seakan masih ada jarak untuk dihapus. Sepasang giok bertemu dengan emas, penuh dengan binar, dan Azuma mematri pemandangan itu di pikirannya dalam-dalam. Ada dengung afirmatif yang keluar di balik bibir Guy yang terkatup, sebelum akhirnya mengujar,

"Sangat."

Dan dengan kepala Azuma yang tersandar di bahu Guy, ia pikir menanti datangnya esok hari tidak akan semenyeramkan itu.