Actions

Work Header

don't stop chasing me

Summary:

Tentang Jaebum yang judes banget kalo digombalin Jackson dan Jackson yang ga ada capeknya ngejar Jaebum

 

Lokal! Nonbaku! Jackbum|Jackbeom au

Notes:

I will still upload english fics in the future!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Suatu siang, Jaebum lagi sibuk ngerjain tugas kelompok di meja kantin yang agak mojok. Keningnya berkerut, fokus banget ke buku fisika yang tebal. Tiba-tiba, ada tangan iseng nyomot keripik kentang di depannya.

"Yang, serius amat sih," suara Jackson terdengar di sampingnya. Jaebum mendongak, mendapati Jackson udah duduk santai sambil nyengir lebar.

"Apesi lu, yang yang," sahut Jaebum tanpa menoleh, tapi pipinya agak merah. Dia tahu, Jackson sengaja manggil begitu di tempat umum biar dia salting. "Balikin nggak keripik gue!"

"Pelit amat sih, Yang. Bagi dikit napa," Jackson gigit keripiknya santai. "Lagian, jangan mikir mulu. Ntar keriput lho muka ganteng lo."

Jaebum mendengus. "Ganteng-ganteng pala lo. Udah sana gangguin Jinyoung apa Mark."

"Ih, kok ngusir sih, Yang? Kan gue maunya sama lo," Jackson langsung nyenderin kepalanya ke bahu Jaebum. Jaebum langsung kaget, tapi nggak nyingkirin kepala Jackson. Dia cuma pura-pura sibuk nyoret-nyoret buku.

"Jijik anjing," Jaebum bergumam pelan, tapi Jackson tahu itu cuma gimmick.

Tak lama kemudian, Youngjae muncul dengan wajah ceria sambil membawa dua botol susu pisang. "Kak Jaebum! Kak Jackson! Ini minumnya!"

"Wah, adik ipar kesayangan gue!" seru Jackson semangat, langsung mengambil sebotol susu pisang.

Youngjae ketawa. "Apaan sih, Kak Jackson!" Dia menyerahkan susu pisang satunya ke Jaebum. "Kak Jaebum jangan banyak-banyak belajar, nanti pusing!"

Jaebum menatap Youngjae dengan tatapan gemes. "Iya, makasih ya, Dek." Jaebum mengacak rambut Youngjae pelan.

Youngjae langsung senyum lebar. Interaksi Jaebum sama Youngjae memang selalu manis, beda banget kalau sama Jackson.

"Gue gak diperhatiin juga nih..." Jackson pura-pura merajuk.

Youngjae memutar bola mata. "Kak Jackson kan udah gede, nggak usah diperhatiin."

"Anjir, jahat banget lo, Dek!" Jackson cemberut, tapi Youngjae cuma ketawa. Jaebum ikutan senyum tipis melihat adik dan temannya berinteraksi.

~

Malam minggu yang santai, Jackson wang tiba-tiba muncul di depan rumah Jaebum sambil membawa tas ransel dan plastik berisi camilan.

"Assalamualaikum, Yang! Pacarmu datang!" teriak Jackson dari luar pagar.

Jaebum, yang lagi asyik main game di ruang TV, langsung keluar buka pager. "Busett! Ngapain sih lo malem-malem gini?!"

"Ya mau nginep lah! Emangnya kenapa, Yang?" Jackson nyengir tanpa dosa sambil masukin motornya. Dia tahu, Jaebum nggak pernah serius ngusir dia, iyalah orang pagernya dibukain lebar.

Youngjae, yang lagi baca komik di sofa sebelah Jaebum, cuma ketawa melihat tingkah Jackson. "Kak Jackson mah nginep mulu di sini."

"Hehehe, kan kangen sama kalian," Jackson langsung rebahan di karpet depan TV, seenaknya sendiri. "Bum, main PS yuk! Gue bawa game baru!"

Jaebum mendengus. "Nggak. Gue lagi ngumpulin koin nih."

"Ayolah, Yang! Sekali ini doang! Jangan pelit-pelit napa!" Jackson mulai merengek.

Youngjae melihat Jaebum yang mulai goyah. "Main aja sih, Kak Jaebum. Aku juga pengen lihat Kak Jackson kalah!"

"Anjing! Jangan provokator ya lo, Dek!" Jackson melempar bantal sofa ke Youngjae, tapi Youngjae gesit menghindar sambil ketawa ngakak.

Akhirnya Jaebum menyerah. Mereka pun mulai main PS, diiringi teriakan heboh Jackson dan omelan Jaebum. Youngjae duduk di sofa sambil sesekali nyemil dan menonton pertandingan sengit antara Jackson dan Jaebum.

"Aduh, Yang! Curang lo! Kok skill gue nggak keluar sih?!" teriak Jackson frustasi.

"Mata lo! Itu skill emang nggak ada! Kalah ya kalah aja!" Jaebum tersenyum puas karena menang telak.

"Tai! Balas dendam nih! Satu ronde lagi!" Jackson nggak mau kalah.

Di tengah keseruan itu, Youngjae yang polos tiba-tiba nyeletuk. "Kak Jaebum, Kak Jackson..."
Jackson dan Jaebum kompak menoleh ke Youngjae. "Apa, Dek?" kata Jackson.

"Aku tuh bingung deh," kata Youngjae dengan tampang serius. "Kalian kan sering banget berantem, tapi kalau nggak ada Kak Jackson, Kak Jaebum suka diem aja kayak patung. Terus Kak Jackson juga kalau nggak ada Kak Jaebum suka jadi kayak ayam kehilangan induknya."

 

Youngjae melanjutkan, "Terus Kak Jackson sering manggil 'sayang' ke Kak Jaebum. Kenapa kalian nggak pacaran aja sih? Biar nggak usah berantem mulu!"

Seketika, ruangan jadi hening. Jackson dan Jaebum mematung. Wajah Jaebum langsung memerah.

"CIH! Apaan sih lo, Dek!" Jaebum langsung gelagapan. "Pacaran?! Gue mah mau cari pacar cewek cantik yang manis, anggun, bukan kayak... itu tuh! Berisik banget!" Jaebum menunjuk Jackson dengan dagunya, berusaha sok-sokan cuek dan jijik. Padahal, telinganya udah merah banget.

Jackson yang tadinya kaget, langsung nyengir lebar mendengar reaksi Jaebum. Dia mendekat ke Jaebum, makin memprovokasi.

"Lagian, Youngjae bener lho. Ngapain kita nggak pacaran aja? Kan udah cocok."

Jaebum makin salah tingkah. "Cot! Udah sana main PS lagi!"

"Tapi, Yang," Jackson menatap Jaebum dengan mata berbinar-binar. "Jangan cari cewek, nanti ceweknya kalah cantik sama kamu."

DUARRR! Jaebum langsung bengong. Wajahnya merah padam sampai ke leher. Dia nggak tahu harus respons apa. Jackson sukses bikin dia speechless.

Youngjae yang nggak ngerti apa-apa cuma ketawa polos. "Hehehe... Kak Jackson sama Kak Jaebum lucu banget deh."

Jackson menatap Jaebum, senyumnya makin lebar. Dia tahu, Jaebum itu sebenarnya mau. Cuma gengsi aja. Dan gombalan barusan, sukses bikin Jaebum mati kutu.

"Udah ah! Gue mau ke dapur nyari minum!" Jaebum langsung kabur ke dapur, menghindari tatapan Jackson dan tawa Youngjae. Jackson hanya terkekeh puas. Dia tahu, dia sudah menang.

Malam itu, setelah sesi PS yang rusuh, youngjae sudah balik ke kamarnya. Karena Jaebum gak lagi mode "senggol bacok" sama Jackson, dia bolehin Jackson tidur di kasur Jaebum (Kadang jackson disuruh tidur bareng youngjae ato gak di sofa aja wkwkkw). Lampu kamar sudah dimatikan, hanya menyisakan temaram lampu tidur yang redup.

Jaebum sudah memejamkan mata, meskipun dia belum benar-benar tidur. Sementara Jackson, dia telentang, menatap langit-langit kamar Jaebum yang gelap. Hening menyelimuti mereka, hanya suara napas teratur Jaebum yang terdengar.

"Bum," Jackson memecah keheningan dengan nada serius, tidak ada jejak keusilan seperti biasanya.

"Gue nggak percaya sih kalo selama ini gue udah terang-terangan suka sama lo, ngegombalin lo terus, tapi lo nggak ada perasaan sama sekali gitu ke gue."

Jaebum sedikit tersentak. Dia bisa merasakan napas Jackson yang tenang di sampingnya. Jaebum pura-pura masih terlelap, tidak bergerak.

Jackson menghela napas pelan, lalu dia membalikkan badannya. Menghadap punggung Jaebum.

"Jaebum-ah," suaranya berubah menjadi bahasa Inggris, terdengar lebih berat dan tulus.

"Should I just stop trying? I mean... if you're really not into guys this whole time, I guess there's no point at all."

Jantung Jaebum langsung berdesir. Matanya yang tadinya terpejam, kini terbuka lebar. Kata-kata Jackson menusuknya. Dia tahu selama ini dia gengsi, dia selalu menyembunyikan perasaannya di balik tingkah sok galak dan omelan. Tapi mendengar Jackson bicara begitu, rasanya ada sesuatu yang remuk di dadanya.

Tanpa pikir panjang, Jaebum membalikkan badannya, bergerak cepat, dan langsung memeluk Jackson. Dia menyembunyikan wajahnya di dada Jackson, menyembunyikan semburat merah di pipinya. Jackson jelas terkejut dengan reaksi itu, tapi detik berikutnya, dia membalas pelukan Jaebum. Lengannya melingkar erat di punggung Jaebum, menariknya semakin dekat.

"Jangan..." suara Jaebum muffled, seperti bisikan, teredam di dada Jackson.

Jackson terkekeh pelan. Dia tahu Jaebum sedang malu. "Hmm? What was that?"

"Ck, jangan berhentiiii," Jaebum masih enggan mengangkat wajahnya. Aroma sabun Jackson yang wangi setelah mandi tadi, membuat Jaebum betah bersembunyi.

"Ngomong yang jelas dong, sayang," Jackson berbisik lembut, tangannya perlahan menarik Jaebum agar menghadapnya. "Sini liat aku, ngomong yang jelas."

Tapi Jaebum malah menunduk, tidak mau menunjukkan wajahnya yang pasti sudah merah padam. Jackson lantas mengangkat dagu Jaebum dengan telunjuknya, memaksanya untuk bertatapan.

"Coba ulang lagi tadi ngomong apa, sayang?" Jackson mengulang pertanyaannya dengan suara yang menenangkan.

Jaebum menghindari kontak mata, menatap ke sembarang arah. "Ck, jangan berhenti ngejar gue," katanya pelan, pipinya masih memerah.

Jackson terkekeh puas. "Jadi... kamu ngaku kamu suka sama aku juga kah akhirnya?"

Jaebum menatap Jackson. Di bawah remang-remang lampu tidur, Jackson terlihat begitu tampan. Mata Jackson memancarkan kelembutan yang jarang dia tunjukkan di depan orang lain, hanya untuk Jaebum.

Perlahan, pandangan Jaebum turun ke bibir Jackson. Dengan memberanikan diri, dia memajukan wajahnya dan mencuri satu kecupan singkat di bibir lembut Jackson (udah lama dia pengen ngelakuin itu).

Setelah itu, Jaebum langsung menyembunyikan wajahnya lagi di pelukan Jackson, memeluk erat pinggang Jackson, tidak berani melihat reaksi Jackson. Malu.

Jackson tertegun sejenak. Dia tidak menyangka Jaebum akan seberani itu. Perlahan, senyum lebar yang sangat puas merekah di wajahnya.

Dia membalas pelukan Jaebum lebih erat.
"Sooo," bisik Jackson, nadanya penuh kemenangan dan kebahagiaan. "Is that a yes to being my boyfriend??"

Jaebum menggeleng pelan dalam pelukan Jackson. "Nggak."

Jackson sedikit kaget. "Terus kamu mau aku ngejar-ngejar kamu terus gitu?"

"Bukan gituuu... :(( " Jaebum merengek pelan.

"Terus kenapa, sayang?" Jackson bertanya lembut, mengusap punggung Jaebum.

"G-gue takut nanti lu mutusin gue terus ninggalin gue..." suara Jaebum sangat samar, masih tersembunyi di dada Jackson, dengan tangannya yang melingkar erat di pinggang Jackson.

Dia terdengar sangat rapuh, sesuatu yang Jackson jarang sekali lihat dari Jaebum yang selalu terlihat kuat dan keras.

Jackson terdiam sejenak. Dia bisa merasakan napas Jaebum yang hangat di dadanya. Perasaan Jackson langsung luluh mendengar pengakuan Jaebum itu. Selama ini dia selalu mengira Jaebum gengsi, tapi tidak menyangka ada ketakutan sebesar itu di balik sikap dinginnya.

Jackson memeluk Jaebum lebih erat. Dia tidak membalas dengan gombalan atau candaan. Nada suaranya berubah menjadi sangat lembut, penuh pengertian.

"Sayang," bisik Jackson, mengusap punggung Jaebum perlahan. "Gue nggak akan maksa lo. Kalau lo takut, itu wajar."

Jaebum tidak merespons, hanya semakin menenggelamkan wajahnya.

"Gue tahu kita udah kenal lama banget, Bum," lanjut Jackson. "Dan selama ini, lo tahu gue kayak apa. Gue nggak pernah main-main sama perasaan, apalagi sama lo."

Jackson menarik napas dalam. "Gue suka sama lo tulus, Bum. Bukan cuma karena lo yang lucu buat digodain. Tapi kalau lo memang butuh waktu, atau lo nggak yakin sama gue, gue... gue akan coba ngertiin."

Jaebum sedikit mengangkat kepalanya, tapi masih menyembunyikan wajahnya di bahu Jackson. "Lo... lo nggak akan berhenti ngejar gue?" bisiknya, suaranya sedikit serak.

Jackson tersenyum tipis. "Nggak akan. Sampai kapan pun, gue akan tetap ada di sini buat lo."

Jackson mencium lembut puncak kepala Jaebum. "Mungkin bukan.. atau belum sebagai pacar, tapi sebagai sahabat terbaik lo. Gue nggak akan kemana-mana."

Jaebum merasakan kehangatan yang mengalir dari ciuman itu. Dia tahu Jackson serius. Jackson tidak memaksa, tapi dia tetap menjanjikan keberadaannya. Itu membuat hati Jaebum sedikit lebih tenang.

Perlahan, Jaebum mengangkat wajahnya, menatap Jackson dengan mata berkaca-kaca. Ada keraguan di sana, tapi juga ada secercah harapan. Dia melihat ketulusan di mata Jackson.

"Janji?" tanya Jaebum pelan.

Jackson tersenyum tulus. "Janji, sayang."

Jaebum akhirnya bersandar lagi di dada Jackson, kali ini dengan pelukan yang lebih rileks. Dia tidak lagi merasa tertekan, justru ada rasa nyaman yang menyelimuti. Malam itu, mereka tidak lagi bicara soal pacaran. Mereka hanya berpelukan, menikmati kebersamaan, dan membiarkan ketenangan mengisi kekosongan.

Jackson tahu, perjalanan ini masih panjang. Tapi dia juga tahu, satu langkah kecil ini adalah kemajuan besar. Dan dia akan selalu ada untuk Jaebum, apapun status hubungan mereka.

~

Pagi hari di rumah Jaebum. Sinar matahari tipis mulai menyusup lewat celah gorden kamar Jaebum. Jaebum mengeliat pelan, mengerjapkan matanya, lalu tangannya meraba-raba sisi kasur di sebelahnya. Kosong.

Mata Jaebum langsung terbuka lebar. Dia langsung terduduk, matanya mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar. Kosong. Jackson nggak ada.

Jaebum mengucek-ngucek matanya, panik tipis melintas di wajahnya. Jangan-jangan Jackson beneran pergi?

Tiba-tiba, pintu kamar mandi di kamar Jaebum terbuka. Jackson keluar dengan handuk melilit pinggangnya, rambutnya basah dan wajahnya terlihat segar. Belom pake baju... Jaebum jadi menahan diri untuk nggak melototin perut kotak-kotak Jackson.

"Nggak usah panik, gue nggak ke mana-mana, wkwkwk," Jackson nyengir, melihat ekspresi Jaebum yang tertangkap basah.

"Ck," Jaebum mendengus, agak malu ketahuan nyariin Jackson. Dia langsung merebahkan diri lagi.

"Ngapain lu rajin amat pagi-pagi langsung mandi?" Jaebum ngedumel.

Jackson tertawa kecil. "Badan gue keringetan pas bangun soalnya lu pelukin mulu semaleman, gue kan emang gampang keringetan, HAHAHAH."

Wajah Jaebum langsung merah padam. Dia ingat kejadian semalam, dan ternyata dia memang nggak lepas-lepas dari Jackson.

Jaebum langsung membalikkan badannya lagi, memunggungi Jackson.

"Apaan dah," Jaebum menggumam, suaranya sedikit tertahan.

Jackson cuma ketawa-ketawa melihat Jaebum yang salting abis. Dia lalu ikut merebahkan diri lagi di kasur, dan pelan-pelan mendekat ke Jaebum dari belakang. Lengannya melingkar di pinggang Jaebum, memeluknya dari belakang. Tangannya yang bebas meraih tangan Jaebum yang tergeletak di samping tubuhnya, lalu mengelus punggung tangan itu pelan. Jackson tersenyum senang saat Jaebum nggak menghindar sama sekali.

"Kamu mau sarapan apa?" Jackson bertanya dengan suara lembut dan deep, membuat Jaebum merinding.

"Kan gue tuan rumahnya anjir, kenapa jadi lu yang nawarin sarapan? Biasanya juga gue yang bikinin," Jaebum menyahut dengan nada jutek seperti biasa, berusaha menutupi detak jantungnya yang berisik.

Jackson terkekeh, nada suaranya kembali usil. "Oh yaudah, gue mau nasi goreng sama iga bakar."

Jaebum langsung menarik tangannya yang digenggam Jackson, lalu menabok punggung tangan Jackson.

"ADUH!" Jackson mengaduh, tapi diiringi tawa..

"Ngelunjak ya lu, gue liat-liat," Jaebum menggerutu. "Udah sana pake baju yang bener! Basah nih kasur gua!"

Jackson cuma ketawa-ketawa ngakak. Dia senang banget bisa godain Jaebum sampai salah tingkah. Jaebum memang selalu menarik untuk digoda.

Setelah drama pagi itu, akhirnya Jaebum bangun dan Jackson membuntutinya ke dapur. Jaebum mulai mengeluarkan bahan-bahan untuk sarapan.

"Kamu beneran mau bikinin sarapan buat aku, Yang?" goda Jackson, bersandar di kusen pintu dapur.

"Berisik. Sana duduk aja," Jaebum melemparkan sendok nasi ke arah Jackson, yang dengan cekatan ditangkap Jackson.

Jackson tertawa, lalu duduk di meja makan sambil memerhatikan Jaebum yang sibuk di depan kompor. Jarak mereka dekat, tapi Jaebum sengaja fokus pada masakannya.

"Gue bantuin nggak?" tawar Jackson.

"Nggak usah. Nanti malah berantakan," Jaebum menjawab datar.

Jackson hanya tersenyum. Dia tahu Jaebum nggak mau dia ribet. Jackson suka melihat Jaebum di dapur seperti ini. Terlihat lebih... rumahan dan hangat, jauh dari imej galak di sekolah. Jaebum yang bisa diandalkan, bahkan dalam hal memasak.

"Eh, Youngjae udah bangun?" tanya Jackson.

"Belum. Tadi dia begadang main game," jawab Jaebum.

"Hahaha, pantesan. Kayaknya semalam dia ngalah sama kita ya, nggak dengar apa-apa," Jackson terkekeh, teringat percakapan serius mereka semalam.

Jaebum hanya berdeham, pipinya sedikit merona lagi. Dia tahu Jackson sedang menyinggung soal pengakuannya semalam. Jaebum sengaja nggak bahas itu lagi. Dia butuh waktu.

Beberapa menit kemudian, Jaebum menyajikan nasi goreng dan telur mata sapi untuk mereka berdua. Wangi sarapan memenuhi dapur.

"Wah, chef Jaebum emang paling gacor!" Jackson berseru, langsung menyendok nasi gorengnya.

Jaebum cuma melirik Jackson. "Makan aja, jangan banyak bacot."

Mereka makan sarapan dalam diam, sesekali terdengar Jackson yang memuji masakan Jaebum. Jaebum sendiri sesekali mencuri pandang ke Jackson.
Setelah sarapan usai, Youngjae yang baru bangun dengan rambut masih acak-acakan langsung bergabung di meja makan. Jaebum dan Jackson masih duduk santai sambil menyeruput minuman.

"Pagi, Kak Jaebum, Kak Jackson!" sapa Youngjae ceria, lalu duduk dan mulai menyantap nasi goreng yang tadi juga udah disiapin Jaebum.

"Pagi, Dek," sahut Jaebum.

"Pagi juga, Youngjae!" Jackson menyahut dengan senyum lebar.

"Pagi-pagi udah ganteng aja Kak Jackson. Kak Jaebum aja masih belekan."

Jaebum langsung mendelik ke Youngjae. "Jahat amat lu, Dek!" Tapi dia nggak bisa nahan senyum tipisnya.

Jackson tertawa ngakak. "Gue udah mandi soalnya nanti siang gue mau nemenin nyokap belanja... sama..." Jackson pura-pura berpikir. "Agak keringetan aja sih gue semalem." Jackson sengaja menggoda Jaebum.

Youngjae langsung menatap Jackson dengan mata polos. "Hah? Emangnya kalian abis ngapain semalam ampe keringetan?"

Jackson melirik Jaebum, yang langsung memberinya tatapan tajam mematikan.

"Gausah ngawur ya lu," Jaebum menggerutu.

Jackson cuma cengengesan aja, nggak berani melanjutkan. Jaebum lalu menyuruh Youngjae menghabiskan makanannya. Obrolan mereka berlanjut seru, Jackson dan Youngjae juga akrab banget, jadi suasana pagi itu tetap penuh tawa.

Setelah sarapan, Jackson beranjak dari meja. "Gue bantuin cuci piring ya?"

"Nggak usah, Kak Jackson. Biar aku aja," kata Youngjae sambil mengambil piring-piring kotor. "Kakak kan mau pulang."
Jackson mengangguk. "Oke deh thank you ya. Kalau gitu gue beresin barang dulu."

Jackson kembali ke kamar Jaebum untuk membereskan tasnya. Dia memasukkan baju kotor dan camilan sisa. Saat dia sibuk mengecek barang bawaannya, pintu kamar Jaebum terbuka. Jaebum masuk, lalu bersandar di kusen pintu, memerhatikan Jackson yang lagi packing.

"Dah mau cabut lu?" tanya Jaebum, suaranya datar seperti biasa.

Jackson, yang masih memunggungi Jaebum dan sibuk memastikan tidak ada yang tertinggal di tasnya, menyahut, "He'em. Mak gue udah nyariin."

Jaebum menutup pintu kamar, lalu melangkah pelan ke belakang Jackson. Tanpa kata, dia melingkarkan lengannya di pinggang Jackson dan menempelkan pipinya ke punggung Jackson.

Jackson refleks memegang tangan Jaebum yang melingkar di perutnya. "Wkwkwk, kenapa lu? Takut kangen gue ya?" dia mencoba menggoda Jaebum lagi.

"Sseun-ah," suara Jaebum lembut banget, memanggil nama panggilan Jackson. Itu jarang sekali terjadi.

"Tentang yang gue bilang semalem... m-menurut lu gue egois nggak...?" suaranya makin pelan, seolah takut Jackson mendengarnya.

Jackson menghentikan gerakannya. Dia bisa merasakan napas hangat Jaebum di punggungnya. Ketulusan dalam suara Jaebum membuatnya mengesampingkan semua candaan. Dia tahu ini bukan saatnya untuk bercanda.

Jackson menghela napas pelan, lalu memutar badannya dalam pelukan Jaebum. Dia menangkup pipi Jaebum dengan kedua tangannya, memaksanya menatap mata Jackson.

"Bum," Jackson menatap Jaebum dalam-dalam, berusaha menyampaikan semua perasaannya lewat tatapan matanya. "Kamu nggak egois sama sekali."

Jackson mengusap pipi Jaebum dengan ibu jarinya. "Kamu cuma takut. Dan itu wajar banget. Perasaan takut itu manusiawi, Bum."

"Justru," lanjut Jackson, suaranya melembut.

"Kamu jujur sama aku. Kamu bilang apa yang kamu rasain. Itu jauh lebih penting daripada kamu pura-pura berani tapi ternyata nyakitin diri sendiri, atau bahkan nyakitin aku."

Jackson tersenyum tipis, senyum yang penuh pengertian dan kasih sayang. "Aku nggak akan pernah nganggep kamu egois cuma karena kamu jaga hati kamu sendiri. Malah, aku makin respek sama kamu karena kamu berani bilang itu ke aku."

Dia memajukan wajahnya, mencium kening Jaebum dengan lembut. "Jadi, jangan pernah mikir kalau kamu egois, ya? Aku di sini nggak untuk maksa kamu, tapi untuk mastiin kamu nyaman dan aman sama aku."

Jackson mengeratkan pelukannya pada Jaebum. "Aku bisa nunggu, Bum. Sampai kapan pun, aku bisa nunggu kamu siap. Yang penting, kamu bahagia."

Jaebum menyenderkan pipinya di pundak Jackson, merengek pelan. "Jangan naksir sama orang lain tapi :("

Jackson terkekeh, mengusap rambut Jaebum lembut. "Iya iya, jangan lama-lama tapi mikirnya, yang ngantri mau gue banyak, gue kan ganteng."

Plak! Jaebum langsung menabok punggung Jackson yang lagi dia peluk. Dasar Jackson, nggak bisa serius lama-lama.

Jackson terkekeh lagi, lalu menarik Jaebum sedikit menjauh agar bisa menatapnya dengan proper.

Tangannya mengelus rambut gelap Jaebum yang panjang dan sedikit ikal. "Hey, I'm not gonna rush you at all, but sooner or later you're eventually gonna have to tell me whether you want to be with me or not, okay, baby?"

Jaebum juga mengerti itu. Dia sadar, egois banget kalau dia terus-terusan mau Jackson suka, naksir, dan ngejar dia, tapi dia nggak pernah kasih kepastian atau mau pacaran. Jackson baik dan tulus, makanya dia bilang Jaebum nggak egois.

Jaebum berjanji pada diri sendiri untuk menata hatinya dan memantapkan perasaannya, supaya dia bisa membalas cinta Jackson dengan benar, dengan tulus.

Tanpa sadar, Jaebum dari tadi menatap Jackson dengan muka berpikir keras nya itu.

"Heh, mikirin apa sih lu?" Jackson mencolek hidung Jaebum. "Nanti jidat lu cepet keriput kalau lu git—"

Omongan Jackson terpotong. Jaebum mencondongkan tubuhnya, menempelkan bibirnya dengan bibir Jackson. Sebuah ciuman yang lebih proper dari semalam. Lebih lembut, lebih dalam, dan lebih lama. Jaebum menutup matanya, lengannya melingkar di leher Jackson.

Jackson awalnya terkejut, tapi sedetik kemudian dia menyadari sesuatu. Jaebum memang tidak pandai menunjukkan perasaannya dengan kata-kata, tapi tindakannya jauh lebih berarti.

Action speaks louder than words, and this one says a lot.

Jackson membalas ciuman Jaebum dengan penuh gairah namun hati-hati, berusaha tidak melewati batas. Tangannya mengelus pinggang Jaebum dengan lembut. Ketika Jaebum mulai kehabisan napas, dia menarik diri. Pipi, bibir, dan telinganya merah padam.

"Duh, jangan sering-sering gitu, ntar gue kebablasan," Jackson terkekeh, napasnya sedikit memburu.

"Ngaco lu," Jaebum menggerutu, lalu melepaskan pelukan dan membuka pintu kamarnya, mempersilakan Jackson keluar. "Dah sono pulang. Jangan keseringan nginep di sini!"

"Apa? Sering-sering nginep di sini?? Aman terkendali sih itu, wkwkwk," Jackson nyengir, tidak kehilangan akal untuk menggoda Jaebum.

Jaebum cuma memutar bola matanya. Mereka pun turun ke bawah. Jackson berpamitan pada Youngjae yang masih asyik dengan sarapannya.

"Kak Jackson hati-hati di jalan ya!" kata Youngjae ceria.

"Siap, adik ipar!" Jackson melambaikan tangan.
Jaebum mengantar Jackson sampai depan rumah. Jackson naik motornya, memakai helm, dan siap berangkat.

"Jackson," panggil Jaebum sebelum Jackson menyalakan mesin.

"Iyaaaa, gue kabarin kalau udah sampai rumah," Jackson mengira Jaebum khawatir.

"Ck... nitip salam sama Mama," kata Jaebum pelan.

Jackson tersenyum di balik helmnya. Matanya berbinar.

"Iya, cantiiik. Thank you ya."

Jackson menutup kaca helmnya, melambaikan tangan, lalu mengendarai motornya meninggalkan rumah Jaebum.

Jaebum melihat motor Jackson menjauh sampai menghilang di tikungan. Senyum tipis terukir di bibirnya. Perasaannya masih campur aduk, tapi satu hal yang pasti: dia sudah tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Jackson. Dan mungkin, inilah saatnya dia benar-benar membuka hati.

Notes:

penasan masih ada ga ya yang baca ao3 indo GOT7