Work Text:
Charles lupa akan nikmatnya semangkuk mie kuah yang disajikan hangat. Entah mengapa rasa mie yang dibuat oleh orang lain terasa lebih sedap dibanding dengan mie yang dibuat oleh dirinya sendiri.
Berkat kebodohannya (dan sedikit kebebalannya), Charles sukses membuat dirinya dan Max terjebak hujan dan memutuskan untuk meneduh di dalam warkop yang berlokasi tak jauh dari pintu gerbang kampus. Kalau saja dia tidak meremehkan Max yang berfirasat bahwa sebentar lagi hujan akan turun, pasti ia tidak terjebak dalam situasi ini.
Ya meskipun ada keuntungan, ia dapat menghabiskan lebih banyak waktu bersama crush-nya. Kapan lagi ia dapat berduaan dengan Max di tengah badai hujan?
"Hujan kelar nanti langsung balik ke kosan, Cha?" tanya Max sembari melahap magelangannya. Tangannya dengan cekatan kembali menyendok makanan yang masih berasap tersebut—tak peduli dengan panasnya yang dapat membuat mulut Max terbakar. Maklum, makanan terakhir yang ia santap berupa risol mayo dan bomboloni dari danusan proker himpunan.
Charles mengangguk. "Lebih ke pengen tidur, sih. Semalem cuman tidur 2 jam."
"Ngapain aja itu?"
"Biasalah. Kayak nggak tahu aja anak Arsi tugasnya kayak apa."
"Yah, padahal mau gue ajakin ke Hypermart. Gue tahu lo belum belanja bulanan kan?"
"Dih, tahu dari mana?"
"Dari Sumedang."
Asbun. Kebiasaan Max seperti itu. Charles lantas memutar bola matanya dan menyentil dahi orang di depannya dengan jarinya. "Ck, mulai deh nggak jelas. Bener sih gue belum belanja bulanan, tapi ngapain ajak gue? Belanja doang bisa sendiri juga."
"Lagi bosen sendirian gue," jawab Max sambil mengusap dahinya yang memerah akibat sentilan Charles.
Charles menatap tidak percaya. "Lo? Seorang Max Verstappen bosen sendirian? Si tumben, tuh. Biasanya kalo diajak orang lain pergi juga lebih suka bikin alasan nggak pergi. Ini malah bilang bosen sendirian? Sakit ya, lo?" Punggung tangan Charles diletakkan di dahi Max seakan-akan mengecek suhu tubuhnya. “Ah, sehat ini,” ujarnya bercanda.
Max yang sudah dua kali dahinya menjadi korban langsung mengayunkan tangannya. "Emang kenapa sih kalau gue mau ngajakin lo? Sensi banget."
Charles memutar matanya. "Serah deh. Emang lo nggak jelas aja." Tangannya kembali memegang garpu untuk kembali menyuapkan dirinya sesendok mie kuah. "Lagipula nggak ada yang suka berduaan sama gue juga," gumamnya kecil.
"Gue suka."
Hah apa?
Garpu yang digenggam di tangannya terhenti mendengar dua kata yang keluar dari mulut Max.
"Gue suka berduaan sama lo," ulang Max tanpa ada kesadaran akan apa yang barusan ia ucapkan.
"Bentar, gimana Max?"
Seketika wajah Max yang biasanya pucat mulai diwarnai oleh nuansa merah. "Y-ya gue suka. Berduaan sama lo. Lo pikir gue suka ngajakin lo kemana-mana berulang kali karena apa? Ya kali gue ngajakin orang yang gue nggak suka buat nemenin gue."
Charles mendengus kecil. "Nggak cuman gue doang pasti."
"Lo ada bodoh sedikit kali ya? Charles, gue suka sama lo."
Skakmat.
Sekarang Charles benar-benar terbungkam.
Max melanjutkan kembali omongannya. "Lo pernah ngeliat gue ngajakin orang lain buat berduaan sama gue, nggak? Nggak kan? Boleh deh kalau lo mau ngitung Daniel, tapi intensitas gue ketemu sama dia nggak sebanyak gue ketemu sama lo, Charles. Lo pernah sadar nggak sih kenapa gue suka nawarin lo tebengan pas motor lo rusak? Kenapa gue selalu nawarin kosan gue pas lo pulang kemalaman? Kenapa gue sering ngajakin lo nugas bareng dan hanya ngobrol sama lo padahal jelas-jelas ada temen-temen lo di situ? Charles, lo buta kalau lo nggak sadar selama ini gue ngelakuin semua ini karena gue suka sama lo."
Max menjelaskan semua itu dengan panjang lebar. Mungkin ini pertama kalinya Charles mendengar si anak Teknik Mesin berbicara sepanjang itu.
Charles memutar kepalanya ke arah sekitar warkop untuk melihat apakah ada orang yang menatap ke arah mereka, mengingat Max berbicara sedikit keras. Setelah melihat tidak ada mata yang tertuju ke arah mereka, ia berbalik untuk menatap Max.
"Ah, nggak seru lo!" seru Charles.
Perkataannya dibalas dengan tatapan bingung dari Max. "Maksud lo?"
"Minimal kalau mau confess tuh jangan di warkop, bego! Romantis dikit dong!" Charles menyilangkan lengannya dan memasang raut cemberut. "Anjing, babi, monyet. Nggak bisa bikin thread romantis di Twitter soal awal pacaran kalo gini."
Max memajukan badannya ke arah Charles dan memukul kepala orang di hadapannya. "Goblok. Gue kira lo mau marah, anjing. Panik dikit nih gue."
"Eh sakit, kampret! Lagian orang waras mana yang confess di tengah warkop? Minimal cari lokasi yang rada bener dah!"
"Gue panik anjir gara-gara ngomong yang gue suka berduaan sama lo. Yaudah langsung gas aja gue."
Bukan pemandangan umum melihat Max menjadi orang yang pemalu sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Wajahnya juga hampir menyamai warna merah yang hampir sama dengan baju yang dipakai Charles.
"Sejak kapan lo suka sama gue?" tanya Charles penasaran.
"Dari waktu kita maba."
Charles tertegun. "Sinting. Selama itu?"
"Waktu kita ospek kan lo masih nggak suka sama gue. Ngomong aja jarang, apalagi confess? Masih untung gue nggak dijauhin sama lo."
Charles mengingat saat ia baru memasuki dunia perkuliahan. Max dan dirinya dulu saling bermusuhan akibat suatu kejadian yang memalukan. Namun untungnya, mereka sudah berbaikan karena mereka ditempatkan di satu kelompok untuk sebuah mata kuliah yang mengharuskan mereka bekerja sama.
"Gue tebak lo sadar lo suka sama gue pas kita satu kelompok di kelas Pak David?"
"Nggak salah. Gue satu kelompok sama lo bikin gue sadar kita dulu musuhan ngapain kocak. Kayak anak kecil," ucap Max yang kini meraih gelas berisi es teh manis. “Lagipula, dulu kita sekelompok berempat sama dua beban, anjir. Gila kalo kita berdua kagak baikan. Bisa-bisa dikasih C buat proyek akhir matkul.”
Perkataan Max mengelak tawa dari kedua pihak. Jika dikilas balik, memang permusuhan singkat mereka terkesan sangat kekanak-kanakan.
"Keren juga lo bisa suka sama gue selama itu. Mantan gue aja kalah."
"Lo itu like-able, Cha. Siapa sih yang nggak bakal suka sama lo? Gue aja kena peletnya."
Sekarang giliran Charles yang merasakan pipinya memanas. "Kata gue stop bikin gue blushing di tengah warkop. Nggak romantis, jelek."
"Kalau mau gue buat jadi romantis mah ayo aja. Tapi pertama gue tanya dulu, lo mau jadi pacar gue nggak?"
"Gila ya lo? Iya lah! Lo juga rada bego kalau nggak sadar gue juga suka sama lo."
"Oke berarti tugas gue selanjutnya adalah cari tempat romantis biar gue bisa ngulang confession gue."
"Eh kata gue mah stop anjingggg."
Beberapa menit dan dua piring kosong kemudian, hujan di luar warkop telah mereda. Siapa yang akan mengira dari kejadian ini ia akan mendapatkan pacar yang juga merupakan crush-nya sedari dulu?
"Hujannya udah reda tuh. Gue anterin lo ke kosan ya," ucap Max sehabis membayar makanannya.
"Tanpa lo nanti gue pulang naik apa coba. Makasih ya pacarku."
"Anjir gue masih nggak percaya lo jadi pacar gue. Apa besok langsung gue lamar aja kali."
"MAX LO DIEM DEHHHH!"
