Chapter Text
kadang-kadang, untuk menghancurkan sebuah mimpi yang dibutuhkan usaha ekstra yang luar biasa. Kau menghancurkan satu orang dan efeknya bisa berakhir menjadi domino.
kadang tidak semua orang bisa memaafkan. Kau hancurkan hidupnya dan dia akan mengejarmu sampai ke Neraka. Dia tidak akan berhenti sampai kau habis ke akar.
kadang-kadang, tidak semua impian bisa menjadi kenyataan pada akhirnya. Di tengah jalan bisa jadi ada kejadian tidak terduga yang akan menjadi mimpi buruk selamanya.
kadang-kadang, kau dilahirkan memang untuk mengirim yang lainnya kembali ke pangkuan Yang Kuasa.
"Berani."
Pria yang dipanggil bersenandung. matanya masih menyimpan pada lembar buku catatan di atas meja. Ia baru mengisi halaman pertama dengan coretan tinta merah.
Salah satu bawahannya melangkah masuk. Jas hitam membalut tubuh tegap dan tinggi. Rambut biru gelap dan hitam bergoyang seiring langkahnya mendekat. Ia meletakkan file berwarna merah tua di atas meja Valiant.
"Permintaan kerja sama dari Tanaka Yumeko. Aku tidak kenal siapa, tapi Echo bilang dia salah satu artis papan atas yang baru debut." Ucapnya tanpa emosi seperti biasa. "Yumeko ini adalah agar dikirimkan orang-orang terbaik."
Valiant meraih file dalam diam. Ia membuka-buka file dengan gerakan lambat dan sesekali menghela nafas dengan dramatis. "Huum- berita lama. Melenyapkan saingan bisnis eh? Semua orang kita adalah yang terbaik. Kirim saja Void, Crimson dan Invy." Ia meletakkan file kembali di atas meja dan kembali memfokuskan perhatian pada buku catatannya. "Mereka lebih dari mampu menghadapi kasus sepele itu. Pastikan bayarannya di kirim ya. Sekarang, jangan ganggu aku sampai makan malam. Berapa lama itu? Oh— tujuh jam lagi. Kecuali ini ada hubungannya dengan dia. Beritahu pada yang lain juga. Apa kau paham, Five?"
Five meraih kembali file dan mengangguk dengan patuh tanpa protes dengan seberapa singkatnya pertemuan itu. Ia berbalik tanpa memberi salam dan melangkah keluar, menutup pintu dengan klik lembut.
"Jadi-" Valiant bergeser sedikit di kursinya untuk mencari kenyamanan. Ia menekan pulpen ke atas kertas putih pada ujung bersih biru. "-sampai mana kita tadi?"
Ia kembali mencoret-coret.
kadang-kadang, tidak semua orang yang kau anggap Malaikat adalah orang-orang terkasih yang baik. Kau lupa, bahwa Raja Iblis Lucifer dulunya juga Malaikat bukan?
Dan bagaimana, para Iblis ini terbentuk?
