Actions

Work Header

Reunited in Danger

Summary:

Tiga belas tahun berlalu sejak Alicia mewarisi IRIS. General baru yang akan memimpin MATA akan segera diangkat, bersamaan dengan pemilihan Datuk Bandar baru untuk Cyberaya. Bertahun-tahun mengabdi dan bertaruh nyawa, Alicia optimis bahwa dirinya adalah kandidat yang mumpuni untuk menjabat sebagai General, sampai akhirnya teror sadis dari organisasi gelap yang menyelimuti Cyberaya dan kembalinya sosok rekan dari masa lalu ikut memupuk semua keraguan yang ia kubur jauh dalam dirinya, memaksa Alicia untuk mempertanyakan semua kebenaran yang ia yakini.

Chapter 1: 初めに

Chapter Text

PROLOG

Loyalitas. Kesetiaan. Komitmen. Pengorbanan. Penantian.

Pengabdian.

Alicia menganggap dirinya sudah sanggup menanamkan filosofi semua kata-kata itu ke dalam sanubarinya.

Namun kepergian sosok yang telah mengajarkan nilai-nilai itu pula lah yang pada akhirnya meninggalkan Alicia sendirian, terdampar di atas dunia yang penuh dengan orang-orang culas nan licik.

Alicia terus berenang, mengayunkan kedua kakinya mengarungi hamparan laut biru yang luas, meski otot kaki dan lengannya telah berteriak meminta Alicia untuk menyerah, ia tak patah semangat. Rasa asin menerjang indra pengecap nya tiap kali dia menghirup nafas. Apakah rasa asin itu datang dari air laut atau dari air matanya, Alicia tak lagi peduli untuk membedakan. Daratan tak terlihat sejauh manapun mata memandang, dia tidak tahu kemana dirinya mengarah. Yang Alicia tahu hanya satu, bahwa jika dia berhenti, maka segalanya akan berakhir.

Di tengah kondisi di mana hidup dan mati dipertaruhkan inilah, Alicia akhirnya sepenuhnya yakin. Kematian adalah jalan paling damai untuk bisa mengikhlaskan kepergian seseorang.

Chapter 2: イチ

Notes:

Hak cipta Ejen Ali sepenuhnya milik WAU Animation Studio. Cerita ini hanya fiksi penggemar yang saya tulis mengikuti alur seri Ejen Ali sampai ke season 3.

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

©WAU Animation 

 

Kata-kata bisa menggerakkan massa, layaknya lava mendidih yang meluap menyemburkan awan panas. Untaian kata-kata yang diucapkan oleh figur yang memiliki kuasa akan menentukan alur tindakan dari orang-orang yang mendengarnya. Konsep ini telah meninggalkan jejak permanen di alam bawah sadar Alicia. 

Ketiga calon Datuk Bandar Cyberaya tengah ajang adu kekuatan intelektual untuk menguliti lawan politik masing-masing, dengan berbalut label “debat”.  Penonton yang memenuhi studio memberi tepuk tangan meriah begitu moderator menyatakan sesi dua akan segera dimulai. 

Alicia mengirim sinyal kepada tiga rekannya yang bersedia di posisi masing-masing. Menggunakan fitur dari Lensa Kotak Spektrum yang sedang dia pakai, Alicia memindai situasi keseluruhan di studio. 

Di panggung utama, tiga buah podium berbaris saling berhadapan satu sama lain. Di belakang masing-masing podium berdiri seorang calon. 

Jajaran kursi penonton di seberang panggung dipenuhi oleh pendukung dari masing-masing pihak yang sibuk memenuhi studio. Termasuk Alicia yang berbaur di antara mereka. 

Tik tik tik tik. Wanita muda berkacamata yang duduk di sebelah Alicia terus menerus mengirimkan pesan menggunakan ponsel pintarnya sejak acara debat dimulai. Entah mengapa gadis itu tidak menonaktifkan fitur bunyi ketukan keyboardnya, Alicia tak akan dan tak berniat tahu, tidak peduli seberapa menyebalkannya suara tik tik tik itu. 

Lampu sorot terang menyorot wajah masing-masing calon untuk memberi fokus pada mereka. Mata elang para jurnalis menajam bersiap menikam sedikit saja kesilapan yang akan ditunjukkan oleh mana pun kandidat. Tepuk tangan penonton mereda begitu moderator resmi menyatakan sesi tanya jawab dibuka. 

Tik tik tik tik tik 

 “Hadirin, jika pada segmen sebelumnya pertanyaan dibuat oleh tim panelis. Maka di segmen ini, pertanyaan murni dari para calon Datuk Bandar.” buka sang moderator. ”Jawaban pertanyaan akan ditanggapi oleh Calon Datuk Bandar penanya, untuk kemudian direspon kembali oleh Calon Datuk Bandar yang menjawab.”

Tepuk tangan meriah dari tim sukses masing-masing calon kembali memenuhi ruangan.

“Untuk kesempatan pertama, kami persilahkan kepada Calon Datuk Bandar nomor urut 1 untuk bertanya pada Calon Datuk Bandar nomor urut 2. Waktu Bapak 3 menit, dimulai dari sekarang.”

Calon Datuk Bandar Cyberaya nomor urut 1, Thaqif Maleek. Ketua Menara Alpha Cyberaya. Presiden Direktur Speed Parts Corporation, perusahaan suku cadang terbesar di Cyberaya. 

Informasi singkat dari Lensa Kotak Spektrumnya melayang dalam bidang pandang Alicia tatkala sang Calon Datuk Bandar nomor urut 1 maju berdiri dan sedikit membungkuk memberi hormat pada penonton. 

“Terima kasih.” buka pria paruh baya itu. Suaranya penuh dengan keyakinan, seolah setiap kata yang terlontar dari mulutnya telah diperhitungkan dengan sempurna. Kemudian Thaqif menghadap ke Calon Datuk Bandar Cyberaya nomor urut 2. “Dalam 5 tahun terakhir, Cyberaya telah mengalami kemajuan pesat yang signifikan dalam bidang teknologi dan inovasi. Namun di sisi lain, tak dapat kita pungkiri bahwa hal ini diikuti dengan meningkatnya aktivitas organisasi gelap yang menyebut diri mereka sebagai NOCTURN.” 

Mendadak studio diselimuti oleh jeda dramatis yang diisi tarikan nafas drastis banyak audiens. Nyaris sebagian besar penonton menutup mulut. Bahkan wajah sang moderator pun seketika memucat. 

NOCTURN. Bayangan gelap Cyberaya. The No-veil districts. The No-Zone. Banyak julukan miring yang diberikan pada organisasi yang sudah menghantui Cyberaya selama 5 tahun terakhir itu.

Alicia sedikit mengerling ke wanita yang duduk di sebelahnya. Terangkatnya topik NOCTURN pada debat yang sedang berlangsung tak sedikitpun mencuri perhatiannya. Tik tik tik tik. Dia terus saja melanjutkan chatting dengan tak acuh. Layar handphonenya menampilkan percakapan di salah satu aplikasi digital. Wanita itu tengah mengetik paragraf panjang dengan agresif. Tik tik tik tik tik.

Thaqif berdehem sebelum melanjutkan pertanyaannya. “Apa strategi dan metode anda untuk memerangi organisasi yang keberadaannya membawa potensi bahaya besar terhadap kedamaian Cyberaya?”

Mata elang para jurnalis berkilat tajam, siap menerkam kesilapan sekecil apapun yang akan ditunjukkan oleh para kandidat. 

Khai, yang sedang menyamar sebagai wartawan dan ikut membaur bersama pers dari media massa lokal dan jurnalis lain ikut berkumpul di seberang panggung, siap sedia dengan gawai canggih MATA berupa kamera dan pakaian ala reporter. Khai kemudian menaikkan kacamatanya ke atas kepalanya, mengusap matanya seolah terlihat lelah, dan memakai kacamatanya kembali. 

Code accepted. Seluruh anggota misi menerima aba-aba dari Khai. Misi akan berlanjut ke tahap kedua.

Alicia menyilangkan kedua tangannya dan mencengkram sisi dalam lengan kemejanya dengan erat. Tik tik tik tik tik. Untuk beberapa alasan yang bahkan Alicia sendiri tidak paham, suara ketukan itu sangat mengganggunya. 

PhantomComm Earpiece berbentuk anting kupu-kupu yang terpasang di daun telinga Alicia berbunyi beep dua kali. 

“Visual didapat. Negatif. Tunggu konfirmasi.” Pesan suara dari Khai masuk. 

Tujuan dari misi ini adalah untuk mendeteksi adanya aktivitas NOCTURN. Rudy sudah mengamankan jejak informasi bahwa mereka merencanakan tindakan yang akan mengancam keselamatan warga Cyberaya pada Debat Calon Datuk Bandar hari ini. Kumpulkan data sebanyak mungkin, cegah kerusakan yang akan ditimbulkan seminim mungkin. Prioritaskan keselamatan warga sipil.

Briefing singkat dari General Rama pagi itu kembali terngiang di telinga Alicia. “Situasi clear. Tetap fokus.” 

Earpiece Alicia sedikit bergetar tatkala sebuah pesan suara masuk. “Sulit untuk fokus kalau kau tahu ada orang yang mengamati semua pergerakanmu seperti seekor elang kelaparan.” Goda Rizka dengan nada mengejek dari seberang sana.

Alicia, tentu kau tahu kan kalau tidak ada yang melarangmu untuk berkedip?” Sahut Moon sambil terkekeh geli, disusul oleh gema tawa Rizka yang terdengar menyebalkan bagi Alicia.

Alicia berkelit ke arah dua rekannya yang tengah berada di belakang panggung. Rizka berdiri di sana, memakai pakaian petugas janitor sambil mendorong gerobak yang berisi peralatan kebersihan. Tak jauh darinya ada Moon, yang sedang menyamar sebagai kru logistik, sedang menyiapkan snack untuk para bintang tamu. Dua orang yang dipandangi kemudian memberi cengiran tengil pada Alicia dari kejauhan. 

Alicia lantas memutar bola matanya. “Memang tidak ada larangan untuk berkedip di dalam protokol.” Tukas Alicia dengan nada bicara yang kurang bersahabat. Namun ujung kedua bibirnya terangkat. 

Alicia menyaksikan Moon dan Rizka saling bertukar tos dari jarak jauh. 

Lain kali aku akan minta agar sering-sering dijadikan satu tim dengan kalian.” suara kekehan Khai ikut menyusul. “Jet pasti akan tertawa mendengar hal ini.” 

Kekehan geli lolos dari bibir Alicia. Rizka, Moon, dan Khai. Ketiga sosok yang sudah mengenalnya sejak lama, sejak masih menjalani pendidikan di Akademi MATA. Hubungan pertemanan mereka semakin mengerat seiring tahun silih berganti.

“Ehm-...” Profesor Azam Arsyad, kandidat nomor urut 2, tampak tertegun sejenak. Seolah tidak menyangka akan ditodong langsung dengan topik panas di Cyberaya oleh Thaqif. “Baiklah,” kegugupan apapun yang tidak sengaja Ia tunjukkan barusan telah lenyap. Azam  mempertahankan kontak matanya terhadap sang lawan politik tanpa menunjukkan rasa gentar secuil pun. 

“Tak dapat dipungkiri fenomena ini meresahkan.” Kilahnya mulus. “Penduduk Cyberaya tidak butuh janji kosong yang hanya terdengar manis di telinga.” Dengan dagu yang terangkat tinggi dia melanjutkan. “Manakala tindakan drastis seperti membentuk pasukan khusus atau bahkan kerjasama dengan organisasi intelijen taraf internasional diperlukan, maka itu adalah pengorbanan yang bersedia saya ambil.” Azam tersenyum puas seakan tidak ada jawaban yang lebih sempurna daripada ucapannya barusan. 

Tik tik tik tik tik

Thaqif terkekeh. “Organisasi intelijen taraf internasional?” Kedua bahunya bergetar. Thaqif menunduk dan menyembunyikan wajahnya di antara jari-jarinya. Kentara sekali dia tengah berusaha menahan gelak tawa. 

Alicia menyaksikan buku-buku jari Azam menegang mencengkram microphone yang dia pegang, wajahnya memerah, entah karena emosi atau karena menahan malu. Jelas sekali Thaqif meremehkan gagasan yang dia ungkapkan barusan. 

Setelah berhasil mengontrol dirinya sendiri, Thaqif kembali menatap lawan debatnya sembari tersenyum miring, matanya berkilau meremehkan sembari kepalanya mengangguk-angguk kecil. Tampaknya dia masih belum selesai. “Apa langkah pertama yang akan anda ambil untuk menekan angka kriminalitas yang meningkat hingga mencapai 28% dikarenakan fasilitas umum seperti droid polisi dan kamera pengawas dibajak dan dicuri Azuriumnya oleh mereka?” lontarnya lagi. 

“Kriminalitas yang meningkat, itu hanyalah pucuk dari masalah yang jauh lebih mengakar.” Layaknya riak permukaan air yang bertemu dengan tetesan rintik hujan, ekspresi wajah Azam terlihat begitu tenang. “Rusaknya sistem keamanan akibat serangan NOCTURN hanyalah katalis.”

“Apakah anda sedang menyatakan bahwa NOCTURN bukanlah penyebab meningkatnya angka kriminalitas di Cyberjaya?” Tukas Thaqif tajam. 

“Anda telah salah mengartikan ucapan saya.” balas Azam kalem namun kedua otot bahunya tampak menegang. Alicia tidak dapat mengartikan apakah Azam sedang gugup atau sedang berusaha terlihat tegar karena ekspresi tenang pria itu seolah menjadi tirai yang terjuntai rapat menutupi celah yang akan menyingkap apapun emosi yang sedang pria itu rasakan.

“Lantas?” Jari telunjuk Thaqif mengetuk-ngetuk permukaan podium di depannya. Satu dua tiga ketukan. “Yang saya tanyakan adalah apa skema anda untuk menekan angka kriminalitas.” tagihnya tak sabar.

Suara bisik-bisik dari jajaran penonton mengisi jeda di studio sebelum Azam menjawab.Tik tik tik tik tik. Wanita di samping Alicia terus saja lanjut chatting sambil sesekali membetulkan kacamatanya.

 “Skema yang saya siapkan adalah menetapkan jam malam pada daerah-daerah berstatus rawan. Aktivitas perekonomian seperti toko 24 jam akan dibatasi, dan membatasi akses transportasi menjadi satu rute.” Azam tersenyum dengan menunjukkan deretan gigi putih rapi di rahang bawahnya. “Yang kedua adalah maintenance rutin droid polisi. Layaknya jam kerja polisi normal, setiap 8 jam sekali Droid akan bergantian berjaga, yang selesai wajib kembali ke pos untuk maintenance rutin guna mengetahui adanya kemungkinan hacking atau kerusakan.”

Suara cekrekan kamera para jurnalis semakin agresif. Tik tik tik tik tik. Wanita yang tadi duduk di samping Alicia mendadak berdiri, lalu berusaha keluar melalui jalan sempit di depannya sambil bergumam sesuatu seperti “Permisi.” 

“Tindakan apa yang anda rencanakan untuk mengkompensasi kerugian yang ditimbulkan akibat Azurium yang dicuri dan fasilitas keamanan masyarakat sipil yang dirusak?” Thaqif berbicara dengan gaya ala transaksi bisnis, tak ada unsur agresif sama sekali dalam intonasi bicaranya kali ini, tenang namun menjebak.

“Dengan mengalihkan pendapatan kota ke sektor lain seperti wisata dan ekspor. Kerugian yang kita hadapi bukanlah jumlah yang terbilang sedikit. Dengan menjadikan sektor ekspor industri dan sektor pendidikan sebagai sumber utama pendapatan kota, kita tidak perlu berharap 100% dari produksi Azurium untuk menambal kebocoran di keuangan kota dari kerugian yang ditimbulkan oleh NOCTURN.” Azam menolak untuk tertindas oleh pertanyaan Thaqif yang kian lama semakin terasa seperti interogasi. 

Alicia! Ada kekacauan yang terjadi di luar!” Pekikan Khai tiba-tiba menarik fokus Alicia dari perdebatan yang sedang berlangsung. 

Fitur X ray dari Lensa Spektrumnya aktif untuk melihat keluar menembus dinding studio. Bulu kuduk di lengan Alicia berdiri tatkala visual yang menampilkan orang-orang yang berlarian panik di luar studio ditayangkan. Lantas ia meninggalkan bangkunya dan berlari ke arah timur mendekati dinding studio untuk mendapatkan visi lebih jelas, kakinya menerobos lorong bangku-bangku penonton dengan gesit. “Hei lihat-lihat dong!” salah satu penonton memekik protes ketika kakinya tidak sengaja terinjak oleh Alicia. 

Ia pun meneruskan peringatan dari Khai pada Rizka dan Moon. 

Saat Alicia tiba di dekat dinding, suara samar teriakan banyak orang yang teredam dinding kedap suara semakin jelas terdengar, diikuti dengan suara hantaman berat dan suara deru kendaraan roda empat. BRUM BRUM BRUM.

DUG! DUG! DUG! Dinding studio bergetar. Seolah-olah ada mesin raksasa yang sedang berupaya menghancurkan dinding itu dengan hantaman keras. Dan benar saja, seolah ada ribuan jarum yang menyumbat saluran napasnya tatkala Alicia menyaksikan visual sebuah mobil tengah bertubi-tubi menabrak dinding studio dari luar ditayangkan di Lensa Spektrumnya. 

Penonton yang duduk di dekat dinding timur studio ikut merasakan getaran-getaran yang muncul setiap kali dinding dihantam dengan brutal. Beberapa terlihat panik karena tidak menyadari darimana asalnya bahaya yang mengintai. 

Thaqif dan Azam yang masih hanyut dalam topik pembicaraan mereka tampaknya tak menyadari bahwa panik mulai menjalari atmosfer studio. Serpihan debu berjatuhan, menandakan telah terbentuknya retakan fatal pada struktur beton dinding tersebut. 

“Peringatan! Dinding akan roboh dalam 3 menit!” 

"Moon! Amankan jalur evakuasi tercepat!" Alicia melesat menyusuri jalan menuju panggung di depan studio. “Cepat larikan diri! Ke pintu darurat! Dinding ini akan segera roboh!” Alicia berteriak memberi peringatan pada penonton di sepanjang sisi timur studio untuk segera menyelamatkan diri. Penonton panik dan kalang kabut meninggalkan bangku mereka. 

Seluruh studio mendadak berdiri dan karena mengira telah terjadi gempa akibat getaran hebat itu.

Pintu evakuasi ada di sisi barat! Tepat di belakang podium moderator! Aku akan mengarahkan mereka untuk ke sana!” 

Kami mengandalkanmu, Moon!” Suara Khai mengobarkan semangat pada seluruh anggota misi.

Nuansa di dalam studio dikuasai oleh histeria para penonton. Moon berhasil memastikan jalur evakuasi di sudut barat aman untuk dilewati, namun penonton yang berbondong-bondong berusaha melarikan diri membuat jalan itu menjadi macet.

Dua puluh tujuh langkah lagi Alicia akan sampai ke sudut timur panggung ketika getaran terasa semakin kencang hingga akhirnya dinding itu ambruk. Serpihan beton melayang ke berbagai arah, debu abu-abu berterbangan memperkeruh pandangan dalam studio yang masih remang-remang. 

Sebuah mobil hitam yang permukaannya dipenuhi coretan cat semprot aerosol merah bertuliskan NOCTURN menerobos masuk kemudian melaju menghantam deretan bangku penonton, lalu berbelok ke arah selatan menuju panggung tempat ketiga Calon Datuk Bandar berada.

Gerombolan penonton yang panik menutup jalur evakuasi, orang-orang berdesak-desakan karena kalang kabut untuk melarikan diri. 

“Rizka! Bantu aku untuk mengevakuasi ketiga Calon Datuk Bandar!" Alicia berseru pada rekannya yang berada paling dekat dengan panggung.  Rizka dan Alicia bertemu langkah di sudut timur, kemudian keduanya segera menyamakan tujuan menuju ke arah podium.

Keduanya menyaksikan Thaqif dan Budiharto masing-masing dikelilingi oleh beberapa orang pria tinggi tegap hengkang dari podium mereka. 

Sebuah tanda seru berwarna merah menyala mengapung di pojok kanan visi Lensa Spektrumnya.

Warning! Bomb detected!

“Kode Hitam! Jalankan protokol sekarang!” seru Alicia lantang, mengubah arah berlarinya menjadi sejalan dengan laju si mobil.

Apa katamu?!” Vokal Khai kental akan rasa gelisah.“Kau benar! Ada bom yang terikat di leher si pengemudi!"

"Apa!? Lehernya?!" Balas Rizka histeris. 

"Ada figur berbentuk orang yang mengemudikan mobil itu! Sebuah bom dengan timer terpasang di lehernya!” Khai menjelaskan dengan geraman. Suaranya berat dan tersaturasi oleh terror.

Ada bom?!” Suara Moon teredam oleh huru-hara masyarakat sipil. “Ya Tuhan, berapa lama lagi sampai bom itu meledak?!”

Decakan lidah kasar dari Khai menyulut kepanikan di tengah mereka. “Satu menit dari sekarang!” 

“Kau pasti?!” sidik Alicia, ada awan gelap yang menyapu wajahnya.

“58 detik dari sekarang!” Keterangan akan sisa waktu teramat singkat yang mereka miliki menginjeksi adrenalin ke dalam aliran darah Alicia.

“Yang benar saja?!” Sergah Alicia. Dengan sekelebat gerakan Alicia meraih sabuk yang terikat mengelilingi pinggulnya. 

Merespon komando dari Alicia, ujung sabuk besi itu memendek dan masuk ke dalam kepala sabuk, bertransformasi menjadi gawai canggih berlogo MATA.

"Khai! Analisa bom yang tertanam di dalam mobil itu!" Alicia terus berlari dengan Rizka di sisinya, berupaya membalap laju mobil itu. “Moon! Jamin keselamatan ketiga Calon Datuk Bandar!”

“Thaqif dan Budiharto, serta semua masyarakat sipil sudah berhasil dievakuasi! Namun aku tidak menemukan titik lokasi Azam!” Alicia menyambut laporan dari Moon dengan hembusan nafas kasar. 

“Azam! Dia tergolek pingsan di belakang podiumnya!”

Alicia menyaksikan Moon bergegas kemudian berlutut di samping sosok Azam yang tengah tergolek. “Tanda-tanda vital normal! Pak! Bangun! Kita harus segera pergi dari sini!” Moon menepuk-nepuk kencang bahu Azam. “Dia tidak merespon! Tak ada cukup waktu untuk membawanya pergi dari sini!”

“Khai! Pergi ke titik tengah studio! Segera aktifkan KAD setibanya kau di sana!” Alicia mendorong turun gumpalan berat di tenggorokannya, tengkuknya mendingin terlepas dari suasana ruangan yang panas dan lembab. “Moon! Aktifkan KAD dan lindungi Azam!” Moon mengaktifkan KAD miliknya tanpa melepas gawai tersebut dari pinggulnya, kubah transparan tipis menyelimuti mereka berdua seperti kepompong.

Dengan nafas terkontrol Alicia terus memacu langkah. “Rizka! Tujuanmu adalah titik barat studio! Lakukan hal yang sama! Tunggu aba-aba dariku!”

“Oke!"

"Waktu hanya 30 detik lagi!”

Ruang studio telah kosong sepenuhnya dari masyarakat sipil.

“Tinggal 25 detik!”

Alicia dan Rizka kini telah sepenuhnya menyamai kecepatan mobil yang terus melaju ke titik di mana Moon dan Azam berada. Kemudian keduanya berpencar ke dua arah berlawanan. Alicia berhasil mendahului laju si mobil, memposisikan badannya hanya beberapa meter dari Azam dan Moon.

Hanya 15 detik lagi!” Khai datang mendekat dari arah utara, Kinetic Absorption Dome Device dengan logo MATA yang terukir di permukaannya tergenggam di tangannya. Alicia, Rizka, dan Khai. Bertiga mereka mengelilingi mobil itu dari tiga titik. 

5 detik!!”

Alicia membanting gawai di genggamannya tersebut ke permukaan lantai. “SEKARANG!” 

Pendar biru memancar keluar dari tiga titik lokasi KAD yang diaktifkan, membentuk kubah medan pelindung yang tampak seperti holographic honeycomb grid dan kemudian  mengurung mobil itu tepat di tengah-tengahnya. 

Suara ledakan dan kilatan merah oranye terang yang menusuk mata memenuhi seluruh jangka pandang Alicia tatkala bom itu meledak. Gelombang kejut yang ditimbulkan menyebabkan tubuh Alicia terpental beberapa meter ke belakang, energi termal dari bom itu menampar wajahnya dan kedua tangannya. 

Telinganya masih berdengung sewaktu Alicia membuka mata. Tampak serpihan dari komponen mobil yang telah meledak memenuhi sisi dalam medan pelindung KAD yang masih aktif, disusul oleh banyaknya potongan lempengan besi berbentuk tangan dan kaki yang terlontar menghantam kubah KAD hingga akhirnya berserakan ke sana kemari.

“Bom itu telah diikat ke leher sebuah droid.”

“Ya…” Terlepas dari suhu ruangan yang panas, Alicia merasa seolah jari-jemari sedingin es menyapu anak rambut di keningnya, bulu kuduk di tengkuknya berdiri. Alicia mendongak ke atas, tepatnya ke jendela dari lantai dua yang persis menghadap ke dalam studio. 

Seorang figur pria tinggi mengenakan kacamata ski dan masker bomber menyambut pandangan Alicia, postur tegapnya yang menyiratkan ketenangan dan kontrol terlihat kontras dengan prahara di dalam studio. Kilauan dari kobaran api memantul di lensa kacamata ski nya, menjadikan ia tampak seperti karakter sadis dari film horror. 

Satu, dua, tiga.

Selama tiga detik keduanya beradu pandang, jari-jemari berduri tajam dari rasa terror menjalari dada Alicia dan mengaktifkan tombol insting bertahan hidup di kepalanya. Alicia reflek menarik pistol dari ankle holster yang ia kenakan dengan tangkas, mengarahkannya ke sosok itu. 

Belum sempat jari Alicia bereaksi untuk menarik pelatuk,  sosok itu mengangkat tangannya, kedua jari telunjuk dan jari tengahnya menyatu, ia melambaikan gestur sampai jumpa pada Alicia dengan satu gerakan santai. Kemudian dia berbalik dan pergi.

 

Notes:

Ali masih belum muncul. Dia akan debut di beberapa chapter ke depan dan tetap tinggal bersama kita sampai cerita ini tamat.