Chapter Text
Arc 1 : Prologue | Reverie
Pelupuk mata yang menyembunyikan pupil biru bak bintang pagi khas karakteristik keluarga tertentu terbuka, hamparan bunga yang bertudung empat warna musim berbeda segera tersebar dalam cakupan penglihatan sang gadis.
Sang gadis yang dimaksud berkedip dengan gerakan lambat. Sekali, dua kali, berkali-kali lagi, hingga penglihatannya yang mulai kembali jernih menangkap jelas pemandangan berbagai bunga warna-warni tengah menari memesona. Di atas setiap tudung bunga, makhluk-makhluk mungil sedang saling bersenda gurau sembari bertingkah nakal dengan cara menyerakkan kilau-kilau sewarna cinta yang kian menambah gelora para bunga untuk menari.
Alih-alih terpikat, raut wajah sang gadis tetap tanpa ekspresi, terlihat tak terpukau akan satu pun keindahan atau keajaiban yang dihadiahkan oleh bukit bunga dan makhluk-makhluk mungil. Dia hanya sekadar memiringkan sedikit kepala, sembari mengamati dengan hati-hati dan waspada terhadap lingkungan asing yang tanpa alasan sedang menyapanya dengan kegembiraan murni.
Dia menarik napas beberapa saat kemudian, tak tahan dan hampir muak dengan keasingan lingkungan yang menyambutnya.
Lingkungan alam tempatnya berpijak memamerkan keindahan dan menguarkan aroma musim semi semerbak yang menyegarkan penciuman siapa pun yang menarik napas, tetapi baginya, hanya bau busuk tanpa ingatan positif yang merasuk indera penciumannya.
Belum lama dua jari lentiknya terangkat untuk mengepit hidungnya yang tanpa sadar mengernyit sebab meloya oleh aroma, seketika kasak-kusuk makhluk-makhluk mungil terdengar. Dia pun mengalihkan atensi dari aroma sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling, hingga penglihatannya menangkap sebagian makhluk mungil sedang menatapnya dengan mata bulat yang memancarkan awan kelabu berpadu rindu, sementara sebagiannya lagi tergelak manis seolah menonton sesuatu yang menghibur.
Sebelah alis sewarna rambutnya terangkat, pertanyaan diam-diam terpancar di mata bintang paginya ketika menghadapi reaksi beragam yang tak terduga.
Salah satu makhluk mungil yang duduk di atas tudung bunga sewarna akhir musim semi dengan anehnya tiba-tiba mengeluarkan butiran air mata, lalu makhluk mungil itu tanpa sepatah kata menunjuk ke suatu tempat di bawah bukit.
Segera mengikuti arah telunjuk dari makhluk mungil, penglihatannya menangkap jalan setapak berwarna hijau klorofil yang perlahan-lahan terurai menjadi merah dan dihias oleh bunga-bunga merah fajar, seakan jalan setapak tersebut dibuat oleh pemuja musim gugur.
Bibir pucatnya membuka untuk mempertanyakan maksud si makhluk mungil, tetapi si makhluk mungil menggelengkan kepala keras, begitu keras hingga tampak bila tidak dihentikan kepala si makhluk mungil akan terlepas. Dia pun mengatupkan bibirnya kembali sembari merenungi jalan setapak bernuansa musim gugur, kebalikan dari bukit bak musim semi yang sedang kakinya pijaki.
Perenungannya yang mendalam sirna ketika terdengar suara retakan dinding tak kasat mata di sekelilingnya, disusul dentingan piano terdengar dari jalan setapak yang ditunjuk oleh makhluk mungil sebelumnya.
Huru-hara pun terjadi pada makhluk-makhluk mungil yang tadinya tergelak manis, mereka sekonyong-konyongnya histeris menyaksikan perlindungan retak. Tak jauh berdiri dari makhluk yang bereaksi histeris, ada jua memasang ekspresi asa-asaan sembari mengatupkan tangan di depan dada tampak berdoa.
Tanpa melirik huru-hara yang sedang terjadi atau tanpa mempermasalahkan dinding tak kasat mata yang tidak dia sadari, dia segera mempertajam pendengarannya. Dia yakin dentingan itu melantunkan melodi yang menyembunyikan tangis dan ratapan seolah sudah lama tertahan, jua melodi itu terdengar familier, biar pun dia yakin tak pernah sekali pun mendengarnya.
Tak butuh waktu lama dia memutuskan untuk angkat kaki dari bukit, tak butuh berpikir dua kali untuk menjangkah batu besar yang memisahkan antara bukit dan jalan setapak, dia bahkan tidak punya waktu berpikir apa pun ketika nalurinya berteriak untuk menemukan sosok di balik dentingan.
Tanpa menoleh ke belakang atau memberikan perpisahan layak pada penghuni bukit, dia terus menyusuri jalan setapak yang hanya akan membawanya ke satu tempat—tempat yang di mana dentingan-dentingan piano berasal.
Semakin dia jauh melangkah, suhu semakin mendingin, begitu juga semua warna musim semi menghilang dan digantikan oleh berbagai warna musim gugur menjalar di mana-mana. Seperti biasa, ada tusukan seperti jarum di jantungnya setiap suhu dingin khas musim gugur membungkus tubuhnya, ada sesak yang menyerang pernapasannya setiap merasakan daun-daun maple berjatuhan di atas kepalanya, dan ada lubang hitam di dadanya ketika mencium aroma sedikit tajam nan manis layaknya kue cokelat yang dibenamkan dalam anggur.
Seperti biasa, tak peduli dadanya tertusuk-tusuk oleh ribuan jarum atau pernapasannya seakan-akan nyaris dicuri, dia tetap menggerakkan kakinya untuk mencari asal dentingan piano, tak peduli bila dia harus menerobos semak-semak belukar, atau pun menjangkah batu-batu besar yang menghadang jalannya beberapa kali.
Hingga di ujung jalan setapak terlihat pohon besar yang berwarna jingga terbakar dengan daun-daun berwarna merah seperti maple menari-nari di udara.
Alunan melodi yang ia kejar menghelanya ke balik pohon besar itu sehingga kakinya tak ragu-ragu untuk terus melewati tantangan walaupun tampak jelas di ujung jalan setapak hanya ada pohon besar tanpa ada apa pun di baliknya. Dengan hati-hati menghindari dedaunan merah yang menari, dia meraba pohon besar untuk mencari sesuatu yang akan mengungkap sesuatu yang tersembunyi.
Meskipun tak tahu apa yang harus dicari, dia terus meraba, ekspresi tanpa emosinya perlahan terpecah, mengungkapkan keputusasaan langka. Saat jemari indahnya menyentuh sesuatu yang lengket, dia tanpa sadar memandang dedaunan merah yang masih menari di sekitar pohon besar dengan pandangan kosong, dan seolah tersadar, dia segera menatap getah lengket di jemarinya, lalu kembali menatap dedaunan merah yang menari.
Dia mengulurkan jemarinya ke udara, sembari diam-diam berharap nalurinya benar. Untungnya, salah satu daun merah yang hanya sibuk menari sedaritadi membiarkan diri jatuh ke telapak tangannya, serasa membuktikan nalurinya benar. Dia segera menaburi getah lengket ke daun merah yang dia pegang seolah-olah dirasuki sesuatu, lalu dia menggenggamnya erat-erat hingga merahnya daun menyatu dengan telapak tangan kirinya.
Begitu telapak tangannya tampak seperti berlumuran darah, cahaya meledak dari sisa dedaunan merah yang tadinya sedang menari dan pohon besar tiba-tiba terbelah menjadi dua, serta diiringi suara yang terdengar seolah ada lapisan dirobek paksa.
Setelah matanya membiasakan diri terhadap cahaya merah yang perlahan memudar, dia tidak siap dengan apa pun yang menyambutnya di balik pohon besar yang sudah terbelah itu.
Ada sosok yang memiliki rambut merah seperti darah menjuntai melewati bahu dikelilingi oleh daun-daun merah yang menari di udara. Di belakang sosok itu, berdiri kokoh pohon besar lain yang memiliki warna lebih gelap daripada pohon besar sebelumnya. Dentingan piano yang dia cari berasal dari jemari lentik yang menari anggun di atas tuts-tuts piano, dan alunan melodi yang sesekali terdengar berasal dari bibir sosok itu.
Dia tidak pernah terpukau oleh apa pun, walau bukit bak musim semi memamerkan keajaiban. Dia tidak pernah menganggap apa pun indah, walau makhluk-makhluk mungil menyerakkan kilau-kilau berwarna cinta, bahkan saat merasakan suhu yang tadinya dingin seketika berubah menjadi hangat, dia tetap merasa hampa. Akan tetapi, kini dia terpukau oleh keindahan ketika melihat sosok itu dikelilingi oleh dedaunan merah darah disertai getaran sedih dari cabang karena tidak mampu menari bersama dedaunan, dan alunan melodi yang mengudara sebagai penyebab dari segala keindahan langka.
Dia menghabiskan waktu yang lama hanya menatap dan mendengar penampilan sosok di hadapannya, tidak yakin bagaimana mendamaikan emosi baru ini di dadanya.
Hanya jeritan rendah yang tersembunyi di balik dentingan yang menyadarkannya untuk segera bergerak, dia pun memberanikan diri keluar dari balik pohon besar yang kini sudah terbelah untuk mendekati sosok yang masih memainkan piano.
Sekilas sosok itu tampak seperti seorang gadis dengan pesona layaknya Tuan Putri dari suatu kerajaan besar, tetapi setelah dia melangkah lebih dekat, dia menyadari bahwa terlepas dari busana glamor yang bagai anggota keluarga kerajaan, sosok itu jelas seorang pemuda berparas jelita yang kebetulan saja menandingi paras semua wanita yang pernah dia temui.
Sosok pemuda yang dia amati segera menyadari kehadirannya sebab mata merah fajar pemuda itu teralih dari tuts-tuts piano. Dia sedikit khawatir pemuda itu berhenti, tetapi seolah mengejek kekhawatirannya yang tidak perlu, pemuda itu hanya mengawasi langkahnya dengan tenang, terlihat tidak terganggu oleh kedatangannya yang tiba-tiba.
Walaupun mata merah fajar terpaku ke arah dirinya, jemari lentik pemuda itu masih menari anggun di atas tuts hitam dan tuts putih, seolah pemuda itu tidak perlu mata untuk memainkannya.
Dia kehilangan hitungan dalam detak jantung, sebab terlena dalam melodi yang entah mengapa membuatnya merasa seperti mencium aroma musim gugur, dan terasa seperti jantungnya terus-terusan tertusuk.
Tak lama berselang, pemuda itu akhirnya meletupkan nada terakhir, jemari lentik yang sedari tadi menari pun berhenti, lalu keheningan tenang membentang antara sang pemuda dan dirinya.
Dedaunan merah yang sempat menari di sekitar pemuda itu satu persatu terjatuh, meninggalkan sosok pemuda yang kini sedang menyandarkan diri pada pohon besar sembari menikmati angin sepoi-sepoi yang anehnya membelai lembut.
Sembari memperhatikan pemuda itu berperangai seolah tidak pernah melantukan melodi yang menyayat hati, kilatan pikiran terlintas dalam benaknya. Tanpa dedaunan menari di sekitar si pemuda, pemuda itu masih terlihat memesona, sehingga lukisan terindah pun akan merasa rendah diri.
Dia segera menggelengkan kepala, mengusir pikiran tak berguna dan tak bermartabat. Kendati sedikit bingung, dia segera mengatur ulang pikirannya sembari mengekang nalurinya yang kini menjerit untuk menarik sang pemuda asing ke dalam pelukan yang menghancurkan tulang. Dia tak ingin memeluk pemuda asing sembarangan.
Setelah yakin dia tidak akan dikuasai oleh naluri, dia menatap langsung mata sang pemuda. Entah mengapa, dia tiba-tiba memiliki keinginan untuk menurunkan pandangan ketika menyadari mata merah fajar pemuda itu masih mengamatinya dengan tenang.
Hanya saja bukannya langsung menurunkan pandangan untuk menuruti keinginan hatinya, dia justru menahan tatapan sang pemuda dengan kekeraskepalaan yang tidak dia ketahui ada. Mereka saling beradu pandang dalam keheningan, tidak ada satu pun yang terlihat berniat mengalah.
Dalam hati, dia menghitung detak jantung untuk mengetahui berapa lama mereka saling beradu pandang dalam keheningan, hingga di detak jantung ke delapan belas, bibir ranum pemuda itu akhirnya membuka, memecah kesunyian.
Suara semerdu melodi tak disangka-sangka keluar dari bibir sang pemuda. "Kamu siapa?"
Dia tidak menjawab, sesaat dia nyaris lupa cara bernapas setelah mendengar suara tanpa nyanyian milik sang pemuda. Sementara itu, akalnya memberitahunya bahwa dia tidak harus menjawab pertanyaan pemuda misterius yang sedang menatapnya dengan ketenangan yang sedikit pun tidak retak.
Dalam keheningan yang kian lama semakin terasa sedikit canggung, sekonyong-konyongnya angin mengembus kencang, membuat daun-daun merah yang terjatuh di tanah terhempas ke mana-mana.
Rambut bak merah darah milik pemuda itu berkibar dikarenakan angin kencang, lalu mengayun dengan lembut ketika pemuda itu sedikit bergeser untuk memainkan asal tuts-tuts piano, tetapi biar pun asal, alunan yang kali ini mengudara terdengar manis seperti bunga-bunga yang bermekaran di musim semi.
Dan anehnya, dia tidak merasakan keinginan untuk meloya ketika alunan yang mengandung manisnya musim semi mengudara dengan jelas.
Melihatnya masih memilih membisu, sudut bibir pemuda itu terangkat, secara samar terlihat geli. "Pakaianmu aneh seolah tidak berasal dari sini." Pemuda itu berhenti bicara sejenak sembari menatapnya lekat-lekat. "Dari dunia ini maksudku."
Hasrat untuk menggelugut tiba-tiba menghantamnya ketika dia menyadari betapa beratnya intensitas yang terpancar dari mata merah fajar milik pemuda itu, tetapi dia berusaha untuk tidak menunjukkan reaksi sedikit pun.
Di sela-sela kesunyiannya, dalam diam, dua buah pertanyaan krusial berkelebat di dalam benaknya, tetapi dia menahan diri. Sudah harkatnya, dia tidak boleh terbawa emosi, atau bercengkerama dengan sosok asing.
Hanya saja, biar pun dia mengetahui harkat yang telah ditanam jauh di dasar jiwanya, bibir pucatnya berkhianat. Tanpa diminta dan mungkin saja terhanyut dalam intensitas tatapan, bibirnya pun menanggapi perkataan sang pemuda. "Anda sendiri siapa?"
Tak memedulikan makna ganda dalam perkataan sang pemuda mengenai kemungkinan dirinya terdampar di dunia asing, dia telah tanpa sadar mendambakan pengetahuan akan identitas sang pemuda sampai-sampai bibirnya sendiri lebih memilih berkhianat.
Memikirkan bibir, dia tanpa sengaja menjatuhkan tatapannya ke arah bibir sang pemuda yang ternyata tengah melekuk ke dalam cemberut yang memikat, lalu matanya segera bergerak ke arah mana pun selain bibir, sembari diam-diam menegur dirinya sendiri karena memikirkan hal tak senonoh.
Tarian asal di atas tuts-tuts berhenti, hipnosis manis musim semi terpecah, membuatnya kembali merasa ingin meloya ketika sedetik saja memikirkan musim semi. Jemari yang sempat menari di atas tuts-tuts piano bergerak untuk mengusak rambut sewarna darah.
Sang pemuda berhenti mengusak rambut setelah menyadari keheningan terlalu lama berkuasa. "Saya ternyata sudah bersikap tidak sopan." Pemuda itu dengan acuh tak acuh mengubah pronomina persona menjadi formal.
Dia pun merasa sedikit menyesal telah menggunakan pronomina persona formal sehingga pemuda itu turut mengikutinya. Makin lama semakin dia merasa keanehan, perasaan keakraban sekaligus asing.
Sebelum dia sempat memikirkan terlalu dalam, sang pemuda bangkit sembari menjauh dari pohon yang pemuda itu jadikan sandaran, lalu berjalan dengan ketenangan yang memukau ke arah dirinya.
Setiap langkah yang dibuat oleh sang pemuda membuat daun-daun berguguran dari pohon seolah ingin mengiringi langkah pemuda itu, bersamaan bunga-bunga sewarna rambut pemuda itu yang duduk manis menghiasi piano melambai ringan seolah memberikan dukungan.
Dia seketika mengagumi keajaiban yang tidak bisa dia rasakan sewaktu dia pertama kali menginjakkan kaki di dunia ini, dan kehampaan hatinya seketika diisi oleh genangan perasaan asing yang terasa manis.
Sang pemuda berhenti dengan jarak yang aman, lalu sedikit membungkukkan diri sembari mengulurkan salah satu tangan. Pemuda itu tampak penuh kesopanan seandainya dia tidak menilik ekspresi pemuda itu dengan lekat—ekspresi yang menunjukkan keengganan samar-samar melintas di wajah pemuda itu sebelum membungkuk, pemuda itu terlihat seolah sedang mengupayakan diri untuk bersikap sopan.
Rasa geli yang hangat merayap di benaknya, rasa yang selalu dia terka tidak akan pernah lagi bisa dia rasakan. Pemuda asing yang tampak anggun itu berusaha bersikap sopan di hadapan gadis asing yang baru pertama kali pemuda itu temui. Sungguh pemuda yang manis.
Dia secara samar bertanya-tanya dalam benaknya. "Apa pemuda itu benar-benar seorang pangeran atau apa?"
Akan tetapi, berbanding terbalik dengan rasa geli yang dia rasakan, wajahnya tetap memasang topeng tanpa ekspresi sembari membiarkan mata bintang paginya memancarkan sedikit keangkuhan ketika menatap tangan yang terulur. Sebab, dia harus bersikap penuh percaya diri, tidak peduli biar pun pemuda itu benar-benar seorang pangeran, bahkan bila pemuda itu seorang Raja pun sudah jelas dia harus menjaga wibawanya sebagai salah satu putri dari ayahnya.
Nyaris tidak terlihat oleh dirinya, bibir sang pemuda melengkung, tampaknya pemuda itu menganggap situasi penolakannya menarik, padahal terlihat jelas uluran tangan pemuda itu dengan sengaja dibiarkan mengudara tanpa batas waktu.
Suara pemuda itu kembali mengalun, nada manisnya kini terdengar seolah menyembunyikan teka-teki.
"Lady, kalau semisalnya saya menawari Anda sebuah rahasia, apa Anda bersedia menyambut uluran tangan saya?"
Dia mendengarkan perkataan pemuda itu dengan hati-hati. Sepintas perkataan pemuda itu mengusiknya lebih dari dia ingin akui, tetapi berbanding terbalik dengan kehati-hatiannya, tubuhnya lagi-lagi mengkhianati dirinya. Sebelum dia memikirkan lebih lanjut apa yang membuatnya terusik, dia sudah tanpa sadar mengambil satu langkah mendekat. Walaupun sedikit merasa canggung, dia menyambut uluran tangan si pemuda, menyerukan persetujuan tanpa harus mengeluarkan lisan.
Senandung secara samar keluar dari bibir ranum sang pemuda setelah pemuda itu menggenggam lembut jemarinya.
Dia menatap tanpa emosi sang pemuda yang masih menggenggam tangannya tanpa berbuat apa-apa kendati beberapa detik telah berlalu. Alih-alih memperingatkan pemuda itu atas genggaman yang lebih lama daripada yang seharusnya, dia hanya diam dengan tenang.
Sebab, kelembutan dan kehangatan yang mengalir jelas dari tangan si pemuda membuatnya mau tidak mau mengakui dia tidak ingin dilepas oleh sang pemuda dalam waktu dekat, sungguh perasaan aneh.
"Suatu kehormatan bertemu dengan Lady yang memiliki mata biru indah layaknya langit yang menolak dihias oleh awan." Sang pemuda berhenti melontarkan kalimat sejenak untuk kembali berdiri tegak, lalu bertanya dengan penuh hormat. "Kalau Lady tidak keberatan, apa boleh saya mengetahui nama Lady?"
Dia mengatupkan bibirnya, ragu-ragu mengungkapkan namanya pada sosok asing yang tidak tahu malu melontarkan pujian kosong atas penampilan fisiknya, tetapi mengetahui mata merah fajar yang masih menatapnya dengan intens, dia terdorong oleh naluri, lalu segera membalas, "Anda bisa memanggil saya Xylona."
Dia langsung mengangkat dagu sedikit, mencoba menyembunyikan perasaan malu sebab lagi-lagi terdorong oleh naluri.
"... Xylona?" gumam sang pemuda perlahan.
Mendengar nada aneh dalam gumaman sang pemuda, dia melemparkan pandangan penuh tanya pada pemuda itu yang tengah memiringkan kepala dan terlihat memikirkan sesuatu.
"Ada apa?" tanyanya dengan nada defensif, sedikit kehilangan kendali terhadap emosinya jika ada sangkut paut dengan namanya.
Sang pemuda tiba-tiba berperangai seolah tidak pernah bergumam, lalu pemuda itu tersenyum dengan kelembutan yang kini terlihat menipu. "Saya hanya kagum mendengar nama Lady, saya pun sedang berpikir betapa terlihat cocoknya bila Lady berdiri di tengah hutan yang penuh bunga-bunga menawan."
Sedaritadi dia sedikit kaku mendengar pujian yang tidak terdengar seperti pujian, tetapi kekakuannya tidak bertahan lama. Dia seketika waspada setelah mendengar arti namanya secara tersirat meluncur keluar dari bibir sang pemuda.
Dia memandang pemuda itu dengan tatapan tajam yang dipenuhi kepercayaan diri. "Arti nama saya berasal dari suatu negara bernama Yunani, saya yakin tidak ada negara seperti itu di dunia ini, lalu dari mana Anda tahu?" Berbanding terbalik dengan kewaspadaannya yang perlahan timbul kembali, dia kembali mempertahankan suara tanpa emosinya.
Dia tak ingin perasaan aslinya diketahui, perasaan yang takut memikirkan bahwa dunia pemuda itu benar-benar berbeda dengan dunianya. Pemuda itu tidak terlihat seperti orang bermental miring yang sedang kabur dari rumah sakit jiwa, dan dia yakin imajinasinya tidak seindah dan secantik wajah pemuda itu jadi tidak mungkin ini mimpi yang dibentuk oleh kesadaran dalam dirinya. Setelah memikirkan semua itu, keyakinan bahwa perkataan pemuda itu benar semakin mengancam kewarasannya. Tak ada pilihan lain, lebih baik dia tidak memikirkan bagian itu secara mendalam demi melindungi kewarasan mentalnya.
Senyum lembut sang pemuda berubah menjadi polos, intensitas dalam tatapan pemuda itu pun digantikan oleh kelembutan, yang membuat paras pemuda itu tampak seperti malaikat. "Apa iya? Padahal saya hanya asal menebak setelah salah satu aroma Lady yang mirip dengan hutan penuh bunga merasuk ke dalam indera penciuman saya."
Dia tak bisa menahan diri untuk tidak mengernyitkan dahi. Dia tak suka pemuda itu mencoba membodohinya, sebab dia yakin tempat ini bukan hutan, dia juga tidak melihat bunga-bunga menawan yang disiratkan oleh sang pemuda selama perjalanannya ke sini. Lain ceritanya bila apa yang pemuda itu maksudkan adalah bukit bak musim semi, tempat pertama kali yang dia pijaki setelah tiba di dunia ini—hanya saja, pemuda itu jelas-jelas menyebut hutan, bukan bukit.
Sang pemuda kembali berbicara, tidak memedulikan reaksi keheranan berpadu ketidaksetujuan yang kini dia tampakkan terang-terangan.
"Sesuai janji sudah menyambut uluran tangan saya, saya akan memberitahu Lady sebuah rahasia. Hmm, tadinya saya ingin beritahu sekarang tapi...," pemuda itu sengaja diam, lalu dengan nada main-main, pemuda itu melanjutkan, "Kelihatannya Lady malah lebih tertarik pada hal lain, jadi yang mana lebih ingin Lady ketahui?"
Bibirnya berulang kali membuka dan menutup, hendak menentang, tetapi dia segera menyerah, lalu membiarkan pikirannya sibuk menghitung situasi.
Ada banyak perhitungan yang melintas di benaknya dalam sekejap, hanya saja di antara sekian banyaknya, hanya ada satu yang dia butuhkan untuk menghadapi sosok di hadapannya.
Dia pun menarik napas dalam-dalam sembari menatap lurus pemuda itu. "Janji yang Anda buat tidak termasuk dalam pertanyaan yang saya tanyakan pada Anda, Anda tidak bisa membuat saya memilih kalau sejak awal memang tidak ada pilihan."
Sang pemuda asing itu tertawa renyah. Kemerduan dalam suara pemuda itu membuatnya sejenak sesak napas, lagi. "Lady cerdas," puji pemuda itu sembari wajah pemuda itu terlihat secara samar-samar berseri. "Tapi tidak cukup cerdas untuk menawarkan sesuatu pada saya. Apa yang akan Lady berikan supaya mendapat pengetahuan yang bukan termasuk janji saya?"
Tak bisa menahan diri, dia menggigit bibir cemas setelah mendengar itu. Sosok pemuda jelita yang bagaikan malaikat itu lebih licik dari siapa pun yang pernah ia kenal, bahkan lebih dari kakak kembarnya.
Dia dan kakak kembarnya tidak memiliki hubungan yang bisa dikatakan harmonis, hanya saja setidaknya dia berulang kali melihat bagaimana kakak kembarnya mampu memukul mundur semua orang yang menindas ibu mereka hanya dengan kata-kata. Berbeda dengan kakak kembarnya yang sangat cocok disandingkan dengan kata petah dan fasih, dia tidak bisa seperti itu. Dia lebih ingin bersembunyi di balik ketidakberdayaan dan ketidakpedulian daripada maju mencoba yang ujung-ujungnya menimbulkan luka dan air mata.
Kali ini pun sama, dia hanya ingin mundur selangkah, menyerah saja untuk mengetahui perkara namanya. Bukankah rahasia yang dijanjikan lebih baik daripada tidak mendapat apa-apa? Dia tidak boleh egois untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari ditawarkan. Seharusnya begitu...,
... Dia tidak bisa. Dia tidak bisa mundur kali ini. Tidak ketika pemuda itu kembali menatapnya dengan mata merah fajar. Tidak ketika mata merah fajar itu menatapnya dengan keseriusan yang tidak pernah dia terima.
Semua pikirannya seketika lenyap. Dia mengangkat sudut-sudut bibirnya selama lima detik sebelum menghilang dalam sekejap. Jika si pemuda melihat seringainya, pemuda itu tidak menunjukkan reaksi apa pun, hanya saja mata merah fajar itu semakin memikat.
Dia akhirnya membuka bibirnya, lalu berkata, "Saya memberi tahu Anda nama saya, sebaliknya Anda tidak memberi tahu saya nama Anda. Bisakah saya menganggap nama Anda sebagai bayaran atas pertanyaan saya?" Sembari menekan dua kata 'nama Anda', binar menantang tanpa sadar tepercik di mata bak bintang paginya.
Mendengar perkataannya, bibir ranum pemuda itu terkulum, seolah menahan diri untuk tersenyum atau tertawa. "Oh, Anda benar." Pemuda itu mengangguk sembari memasang ekspresi kontemplatif. "Baiklah, saya menerima pembayaran cerdas Lady."
Kelegaan mengalir dalam dirinya. Dia tidak perlu berlarut-larut bersilat lidah dengan pemuda yang kini akan dia kenal sebagai iblis yang bersembunyi di balik wajah malaikat. Mata tanpa emosinya sedikit retak, antisipasi terpancar dari matanya, dia menunggu jawaban dari pertanyaannya.
"Nama saya memang mahal. Anda pintar sekali, Anda rela tidak mengetahui nama saya demi membayar harga pertanyaan Anda." Ekspresi kontemplatif pemuda itu menghilang, digantikan dengan kekaguman samar, yang tidak dia pahami.
Apa pemuda itu mencoba berbasa-basi daripada menjawab pertanyaannya? Atau pemuda itu hanya sekadar ingin pamer mengenai betapa berharga nama pemuda itu dibanding namanya? Atau bisa jadi pemuda itu secara tersirat menyindirnya karena lebih mementingkan mengetahui arti namanya daripada nama pemuda itu, jika semua itu benar, maka pemuda itu sungguh—
"Anda perlu belajar lebih banyak soal akar dari nama Anda, Lady." Perkataan pemuda itu memutus pikirannya. Dia sedikit kaget, sebelum mengendalikan dirinya. Kali ini, dia mendengarkan pemuda itu dengan sungguh-sungguh. Namanya lebih penting daripada gulatan batinnya. "Dan Anda juga perlu belajar lebih banyak soal orang yang memberi Anda nama itu." Dia menatap pemuda itu kosong, dari tadi dia tidak mendapat jawaban sesuai ekspetasinya.
Barangkali pemuda itu melihat sesuatu dari wajahnya yang dia kira tanpa emosi karena pemuda itu kembali tertawa renyah. Dia mengabaikan napasnya yang sesak setiap kali alunan tawa pemuda itu mengudara.
Pemuda itu berhenti tertawa. "Harga nama saya terlalu mahal sehingga saya memberikan Anda bonus berupa saran yang suatu saat mungkin Anda butuhkan," katanya dengan nada lembut. "Tenang saja, Anda akan mendapatkan jawaban sesuai yang Anda inginkan, Lady."
Oh.
Pemuda itu menggumamkan sesuatu, tetapi dia tidak mendengar gumaman pemuda itu, sebenarnya dia tidak berusaha untuk mendengarnya. Pikirannya kusut setelah mendengar perkataan yang bagaikan ramalan tersebut, sehingga berbagai pertanyaan berlomba-lomba menguasai pikirannya.
Sebelum dia tenggelam dalam pertanyaan yang paling krusial mendominasi pikirannya, dia merasakan sesuatu basah di punggung tangannya. Dalam sekejap, anehnya pikirannya kembali jernih, dia juga melupakan apa yang sempat membuatnya kehilangan fokus. Dia mengalihkan perhatiannya pada pemuda itu yang mendadak mengecup punggung tangannya.
Melihatnya kembali sadar, pemuda itu berhenti mengecup punggung tangannya, sembari secara lembut melepas tangannya yang sedari tadi pemuda itu genggam.
"Saya tidak suka mengulang perkataan saya, tapi karena Anda tidak mendengar perkataan saya sama sekali, saya bersedia mengulangnya. Anggap saja sebagai bonus lain." Dia merasa aura pemuda itu berubah, dia yakin ada sesuatu yang berubah dari pembawaan pemuda itu semenjak dia tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Dia menggelengkan kepalanya pelan, ada banyak hal aneh yang terjadi padanya dan ada berbagai hal aneh yang dia rasakan semenjak dia berdiri di bukit bak musim semi yang penuh keajaiban. Kapasitas mentalnya sudah tidak cukup untuk penasaran terhadap perubahan dalam dirinya maupun dalam diri pemuda itu, oleh karena itu untuk pertama kalinya, dia memilih mundur.
Sama seperti pemuda itu yang berdiri tegak sembari mempertahankan sikap anggun, dia juga berusaha mengontrol dirinya untuk tidak terbuai naluri atau tidak membiarkan tubuhnya bertindak tanpa izinnya lagi.
Sekilas, pemuda itu memperhatikan sekitar mereka dengan hati-hati, lalu kembali menaruh perhatian padanya. Raut wajah pemuda itu tampak serius. "Kita tidak bisa berlama-lama lagi di sini, mohon maafkan saya kalau saya bertindak tidak sopan, Lady." Dengan keanggunan yang benar-benar tampak seperti pangeran, pemuda itu mengulurkan tangan untuk menggamit tangan kanannya, lalu menghelanya menuju ke satu-satunya kursi, yang terletak di belakang piano sekaligus berdempeten dengan pohon besar. "Silakan duduk, Lady." Pemuda itu dengan lembut menekan pundaknya untuk membuatnya segera duduk, lalu melepas pundak dan tangannya secara bersamaan.
Dia terdiam. Tidak pernah sekali pun dia disentuh tiga kali oleh orang yang sama sepanjang hidupnya. Pemuda itu perlahan-lahan menundukkan tubuh untuk menyejajarkan mata merah fajar dengan mata biru bak bintang paginya. Mereka saling bertatapan, dengan intensitas yang berbeda.
Pemuda itu membuka mulut setelah yakin dia menatap langsung mata merah fajar itu tanpa memiliki gelombang emosi tak berguna. "Dengar baik-baik, Lady. Siapa pun yang memberikan Anda nama itu mengharapkan Anda untuk menjalani hidup seperti hutan yang mampu melindungi bunga-bunga indah." Telinganya menaruh fokus mendalam terhadap perkataan itu. "Saya mengetahui nama maupun arti nama Anda karena saya pernah bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Anda. Dia menceritakan banyak hal tentang Yunani yang Anda sebut-sebutkan sebelumnya." Pemuda itu tersenyum tipis, dadanya seketika terasa panas melihat senyum itu, tetapi dia mendorongnya ke bawah. Dia benar-benar tidak dalam situasi yang membutuhkan emosi buruk.
Dedaunan merah yang sedari tadi diam kembali bergerak, dan bunga-bunga yang sedari tadi menundukkan mahkota mereka seolah menghormati pemuda itu yang ingin mengobrol dengan dirinya secara tenang kini mendongakkan mahkota mereka.
Wajah pemuda itu kehilangan senyum tipisnya, pemuda itu kembali memasang ekspresi serius. Kali ini, dia tahu apa yang terjadi. Sesuatu yang tampak mimpi akan menghilang seolah semua yang ia alami adalah fatamorgana. Hatinya terasa diperas oleh tangan tak terlihat setelah ia menyadari fakta itu.
Dia memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan dirinya. Dia merasa tersesat, sampai pada titik dia merasakan dari kepala sampai ujung kaki bahwa ada gelombang emosi yang seolah ingin melahap dirinya, seolah mereka dendam karena selama ini dia selalu menahan emosinya. Mereka ingin dibebaskan.
Dia mempersiapkan diri untuk menerima terjangan gelombang emosi. Lima detak jantung. Sepuluh detak jantung. Tiga puluh detak jantung. Semakin dia menghitung, gelombang emosi itu tidak datang.
Dia membuka matanya kembali. Jika tadi dia tersadarkan kareka kecupan pemuda itu di punggung tangannya, kali ini dia tersadarkan karena pemuda itu mengelus daun merah yang masih melekat di telapak tangan kirinya.
Melihat pemuda itu mengernyitkan dahi saat menatap merah yang seolah darah membasuh telapak tangannya sekaligus memperhatikan bagaimana pemuda itu dengan hati-hati mengeruk daun yang masih melekat di telapak tangannya, dia pun seketika mampu menenangkan diri sepenuhnya, dan gelombang emosi di dalam dirinya pun meluruh dikarenakan sikap perhatian yang pemuda itu tunjukkan.
Dia seharusnya tidak kehilangan kendali, karena dari dulu dia sudah belajar bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan, kali ini pun tidak berbeda. Dia tidak perlu terlalu emosional memikirkan perpisahan yang sebentar lagi mendatangi mereka berdua. Terlebih lagi pemuda itu hanyalah pemuda asing yang aneh.
Dia membiarkan pemuda itu menyentuhnya tanpa permisi. Helaan napas panjang mengalir keluar dari bibirnya, lalu dia pun menanggapi pemuda itu dengan nada seolah-olah meyakinkan dirinya sendiri.
"Andaikan..., andaikan rahasia yang semula Anda ingin katakan pada saya memiliki harga yang sama dengan nama Anda, bolehkah Anda memberi tahu nama Anda saja?"
Pemuda itu berhenti memainkan telapak tangannya, lalu mendongakkan kepala untuk menatapnya, sembari memiringkan kepala. "Harga nama saya terlalu murah dibandingkan rahasia yang saya janjikan untuk Anda." Bibir pemuda itu lagi-lagi melekuk ke dalam cemberut yang masih tampak memikat. "Saya kira Anda pintar, ternyata Anda bodoh, ya."
Untuk pertama kalinya, dia tertawa bebas. Dia mengabaikan sentakan kaget dari pemuda itu ketika mendengar tawanya yang penuh dengan emosi positif. Anehnya, hatinya malah terasa hangat ketika pemuda itu memanggilnya bodoh. "Saya ingin mengetahui nama Anda, sisa pembayaran akan saya tagih kalau saya bertemu Anda lagi," tanggapnya senang. Dia mengulurkan tangan kanannya yang bebas, lalu menepuk kepala merah sewarna darah milik pemuda itu. Rambut pemuda itu sangat sehalus sutra.
Sang pemuda yang selalu anggun dan tenang, serta terkadang main-main dengan nada licik itu kini begitu cepat memalingkan wajah, pemuda itu mencoba menyembunyikan wajah merah dan bibir sedikit bergetar. "Saya tidak yakin kita akan bertemu lagi, tolong jangan membuat saya berhutang."
"Bibir Anda bergetar, lho. Apa Anda menahan senyum?" Dia tersenyum cerah. Dia senang tak hanya dirinya yang menghentikan kepura-puraan, entah apa sebabnya, dia hanya membiarkan dirinya merasakan kesenangan sesaat itu. "Entah saya atau Anda, salah satu dari kita berdua bisa lho membuat apa yang tidak mungkin menjadi mungkin," katanya dengan nada bercanda.
Pemuda itu kembali menatapnya, kali ini justru pemuda itu yang memasang wajah tanpa ekspresi, seolah ingin membuktikan bibir ranum pemuda itu tidak pernah bergetar. "Tidak mau, terlalu menyusahkan."
Sebelum dia sempat membalas, suara pecahan terdengar di sekeliling mereka. Suara pecahan sama yang menyebabkan huru-hara di bukit bak musim semi sampai-sampai para makhluk mungil berteriak seolah mereka didatangi kiamat. Mengingat semua itu, secara naluri, dia langsung tahu bahwa waktu dia bersama dengan pemuda itu benar-benar hampir habis.
Dia melepas tangan kanannya dari kepala pemuda itu, lalu menaruhnya di atas tangan pemuda itu yang masih memainkan telapak tangannya. "Sekarang beri tahu saya nama Anda." Dia menatap pemuda itu dengan sungguh-sungguh. Keinginan kuat tersampaikan di pancaran mata bak bintang paginya. Dia berpikir cepat, lalu melanjutkan, "Anda tidak perlu berhutang, anggap saja rahasia itu sama berharganya dengan nama Anda."
Pemuda itu menggelengkan kepala samar sekali, tampak seperti sebuah peringatan—hati-hati saat bicara. Sinar baru memenuhi matanya melihat itu. Dia tidak boleh mundur kali ini, sebelum dunia ini menghilang bak fatamorgana, dia ingin mendapatkan nama pemuda itu.
"Lady, kenapa Anda lebih ingin mengetahui nama saya?" tanya pemuda itu dengan sikap seseorang yang sudah mengetahui jawaban dari pertanyaan itu.
Api membara dalam dirinya. Dia mencurigai pemuda itu sengaja mengulur waktu sampai sekat, yang seharusnya dari awal tidak membuat dunianya dan dunia pemuda itu bersinggungan, muncul kembali.
"Kenapa Anda tidak ingin memberitahukan nama Anda pada saya?" Segera dia bertanya balik tanpa membalas.
Seketika tatapan pemuda itu mirip seperti tatapan ayahnya, yang selalu menatapnya dengan tatapan bahwa tidak ada jawaban mudah untuk semua pertanyaannya.
"Terkadang ketidaktahuan adalah sumber kebahagiaan." Hanya itu yang keluar dari bibir ranum pemuda itu setelah memberinya tatapan yang mirip ayahnya. Api semakin membara dalam dirinya.
Kali ini, pemuda itu mengelus rambutnya tetapi itu tidak cukup, tidak ada yang mencegah jantungnya berdebar keras waktu dia menyemburkan kata, "Omong kosong apa yang Anda katakan? Biarkan saya sendiri yang menentukan apa yang membuat saya bahagia!"
Pemuda itu pasti memikirkan hal yang sama karena pemuda itu hanya menatap wajahnya dengan tatapan kosong. Gerakan tangan pemuda itu pun berhenti. Baik di kepala maupun di telapak tangannya. Api di dalam dirinya langsung padam.
Suara retakan semakin keras. Dia menggigit bibirnya, ingin tahu sumber dari setidaknya sebagian rasa sakit yang dia rasakan, setelah pemuda itu lagi-lagi menolak memberinya nama.
Dengan putus asa, dia kembali berbicara, apa saja untuk membuat pemuda itu menanggapinya. "Saya tahu ini aneh, tapi Anda penting bagi saya. Lebih penting daripada diri saya sendiri, setidaknya itu yang hati saya coba katakan semenjak melihat Anda." Dia menyebutkannya, bukan untuk mendapatkan jawaban, tapi lebih karena dia harus mengucapkannya—seakan kata-kata itu sudah tersimpan di ingatan terdalamnya untuk waktu yang terlalu lama dan harus segera dilepaskan, sebelum pemuda itu menghilang tanpa mendengar kalimat itu.
Tatapan kosong pemuda itu berubah tajam, begitu tajam dan mengancam, hingga dia merasa takut bahwa tatapan pemuda itu sudah cukup untuk mempercepat kemunculan sekat—sekilas dia curiga bahwa bila sekat bisa merasakan emosi maka sekat itu juga akan merasa takut bila menerima tatapan seperti itu. Berbanding terbalik dengan ketakutannya, pemuda itu akhirnya membuka mulut yang beberapa menit belakangan hanya terkatup, dan meloloskan nama yang sedaritadi dia tunggu-tunggu.
"Saya sebenarnya memiliki banyak nama, tapi...," semenjak dia tiba di dunia ini, dia sudah cukup mendengar pemuda itu mengucapkan kalimat-kalimat dengan nada lembut, tetapi dia yakin dia belum pernah mendengar pemuda itu terdengar lebih lembut daripada waktu pemuda itu berkata, "Perkenalkan nama saya Cale Henituse, suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Lady Xylona."
Pada detik nama pemuda itu keluar dengan lembut dan lambat dari bibir pemuda itu, seketika kilasan-kilasan memenuhi matanya. Kilasan dari memori yang sebelumnya tidak pernah ada, segera mengalir di dalam kepalanya.
Jantungnya berdegup kencang, keringat dingin mengalir di tengkuknya, dia pun tanpa sadar meremas keras tangan pemuda yang mengaku bernama Cale itu, sangat keras sehingga tampak seperti akan menghancurkan tulang. Akan tetapi, pemuda itu menerima rasa sakit itu dengan raut wajah tabah, sembari pemuda itu tampak dengan sabar menunggunya, mata merah fajar itu mengandung kasih sayang yang terasa aneh untuk dirinya yang sekarang.
Tanpa sadar, lagi-lagi dia memejamkan mata. Dia melihat gambar-gambar yang seakan menari dengan tarian cinta, dan begitu banyak gambar yang berdampingan dengan musim semi melintas di ingatannya. Bagai kereta yang meluncur dengan kecepatan tak manusiawi, ingatan yang penuh kasih sayang seperti musim semi tanpa peringatan berubah dengan tajam, ingatan yang menggugurkan banyak hal menggantikan ingatan musim semi dengan aroma sedikit tajam nan manis layaknya kue cokelat yang dibenamkan dalam anggur menunggunya, sebelum dia terlena dalam aroma itu, dia langsung diterjang oleh badai salju, dia pun merasakan kedinginan dan penderitaan yang malang, hingga dia tak punya pilihan selain tersentak dari memori itu.
Dia terengah-engah sembari membuka mata. Dia disambut oleh mata merah fajar yang menatapnya lekat dan penuh perhitungan, pemuda itu seolah menunggu sesuatu.
Emosi bercampur aduk dalam dirinya, dia belum bisa memahami emosi-emosi baru yang kini bercampur dengan emosi-emosi lama. Jantungnya berdetak kencang karena alasan berbeda, tanpa sadar matanya berkaca-kaca. "Anda... tidak, Cale, sejak awal kamu sudah tau siapa aku." Cale tidak menanggapi suaranya yang pelan tapi kuat. "Kamu benar-benar pandai berbohong dan berakting, Cale," lanjutnya lirih. Pronomina persona formal benar-benar hilang dari dirinya, dan dia yakin dari diri Cale juga.
"Sudah aku bilang kan, lebih baik kamu tidak perlu tahu namaku, padahal sudah benar tadi kamu menjual namaku untuk mengetahui arti namamu." Senyum lemah terulas di wajah jelita Cale. "Aku mencurigai seseorang yang menjadi penyebab kita bertemu kali ini tapi kita tidak punya waktu membahasnya." Lagi-lagi suara pecahan merasuk gendang telinga mereka, kini suara itu terdengar mengesalkan. "Dengar baik-baik, huruf-huruf masih muncul di sekitarmu setiap kali tuts-tuts dari pianoku berdenting, lalu saat alunan melodiku mengudara, huruf-huruf itu menari untuk membentuk rangkaian kata."
Perasaan-perasaan aneh yang dia rasakan pada pemuda itu semenjak pemuda itu memasuki pandangannya, kini dia tahu alasan semua perasaan aneh itu, hingga naluri yang di dalam dirinya bertindak duluan dan seolah mengunci logikanya. Dia memercayai Cale, dari dulu hingga sekarang, bahkan jika ingatannya lenyap, masih ada jiwanya yang selalu mengenali Cale. "Rangkaian kata itu—" dia memaksakan kata-kata keluar dari bibirnya, walaupun terdengar bagai bisikan lirih, "Kali ini membentuk kalimat apa?"
Jantungnya berdegup dengan kecepatan di atas rata-rata ketika Cale terlihat ragu-ragu menanggapi. Entah mengapa merasa frustasi dan merasa familier, dia mengulurkan jemarinya yang bebas untuk memainkan rambut merah sewarna darah milik Cale.
Cale memejamkan mata sejenak, seolah ingin menikmati jemarinya selama mungkin, lalu pemuda itu menatapnya dengan serius yang berpadu dengan kesedihan samar.
"Fata lusum tecum vult ludere, sic iuvenem stantem coram te protege."
Sesaat dia terpukau oleh aksen latin dan tiada kesalahan dalam pengucapan pemuda itu, tetapi dia tidak punya waktu untuk terpukau.
Ledakan jatuh di sekeliling mereka. Mata biru bak bintang paginya beradu pandang dengan mata merah fajar. Pemahaman yang terbebas dari kurungan di dalam dirinya membuat nuansa musim semi menyelimuti tubuhnya, dan nuansa musim gugur menyelimuti tubuh pemuda itu.
Kesadaran melintas di benak mereka masing-masing bahwa sudah waktunya mereka berpisah. Cale mendekat dengan keintiman yang akan membuat sebagian besar gadis epistaksis, sembari berbisik, "Kamu tau kan ini belum waktunya?"
Dia tak menanggapi, dia sibuk menghafalkan ulang kalimat latin tersebut di benaknya, dan berusaha menanamkan kalimat itu jauh di dasar jiwanya.
Cale sudah mengenalnya lebih dari pemuda itu kira, Cale pasti juga tahu dia mendengar perkataan itu, jadi Cale hanya harus melakukan apa yang harus Cale lakukan di setiap akhir pertemuan mereka.
Samar-samar dia juga tahu tindakan apa yang akan dilakukan oleh pemuda jelita itu selanjutnya, pemuda yang memiliki hati dan ingatannya, yang menanggung begitu banyak beban di pundak.
Tangan kanan Cale terangkat, lalu dengan gesit dan tanpa aba-aba menutup matanya, sedangkan tangan kiri pemuda itu menggenggam erat tangan kirinya yang masih tampak berlumuran darah. Meskipun dia sudah pernah merasakannya berkali-kali, dia tidak bisa memaksakan diri untuk tidak merasa kepanikan ketika pemuda itu lagi-lagi melakukan hal yang sama, sebelum memorinya terhapus paksa.
Kini jantungnya berdegup lebih kencang saat emosinya sendiri bercampur dengan emosi Cale, memunculkan badai yang berupa ciri khas dua musim sehingga langit pun turut terperdaya oleh cahaya yang berbentuk tirai dengan warna merah darah.
"Semua yang terjadi di sini hanyalah bunga tidurmu, makanya segeralah bangun, Tuan Putri Tidur."
Cale berbisik rendah di telinganya, melodi dalam suara pemuda itu menidurkan jiwanya yang perlahan terlelap.
Sebelum pelupuk mata menyembunyikan pupil biru bak bintang paginya, dia sempat mengintip dari sela-sela jemari Cale sehingga dia bisa melihat kelopak-kelopak bunga berwarna merah muda dan merah fajar menghujani mereka seolah langit atau seseorang turut berduka, dia juga sempat membaca permintaan maaf tanpa suara dari Cale sebelum bibir ranum pemuda itu menyapu dahinya.
Dengan getir, pelupuk matanya kini sepenuhnya menyembunyikan pupil biru bak bintang pagi khas karakteristik keluarga tertentu. Kesadarannya pun akhirnya turut tenggelam ke dalam badai yang muncul dalam dirinya untuk melahap semua ingatannya yang terkait Cale, dunia Cale, dan tempat itu. Kian lama kesadarannya semakin tenggelam, kebencian terhadap musim semi lagi-lagi menghantamnya, dan kenestapaan pada musim gugur menjebaknya dalam duka yang perlahan dia lupakan alasannya.
Arc 1 : Prologue | Reverie
END
