Actions

Work Header

Snow Trail

Chapter 5: Hujan Pertama (4)

Chapter Text

Kata “pengorbanan” itu menggantung di udara yang penuh debu dan bau telur orak-arik, menjadi benda padat yang bisa diraba. Yuki menatap Nagumo, mencoba membaca makna di balik mata cokelatnya di cahaya lampu dalam jarak yang lebih baik—dan lebih lelah—daripada yang ia perlihatkan.

 

“Orang itu,” ucap Yuki perlahan, “kau?”

 

Nagumo tidak menjawab. Ia hanya menyeruput kopinya lagi, menengadahkan kepala sehingga cahaya menerpa garis rahang yang tegas dan spiral Fibonacci di lehernya dengan lebih jelas. Itu adalah seni di atas kulit seorang yang hidup di dunia hitam-putih kematian. Kontradiksi berjalan.

 

“Makanlah sebelum dingin,” ucapnya, mengalihkan topik dengan halus namun tegas.

 

Yuki mematuhi, bukan karena tunduk, tapi karena logika. Tubuhnya membutuhkan bahan bakar. Setiap suapan telur yang hangat terasa seperti penegasan kembali akan realitas fisiknya—ia masih hidup, ia masih merasa, ia masih punya keinginan untuk bertahan yang melampaui sekadar naluri. Itu penemuan kecil yang mengejutkannya.



Mereka makan dalam keheningan. Suara sendok timah mengetuk piring adalah satu-satunya pengisi ruang. Yuki memperhatikan cara Nagumo makan di ujung pandangannya—cepat, tetapi tidak terburu-buru. Setiap gerakan punya tujuan. Setiap nafas diukur. Dia seperti mesin yang disetel sempurna. Tato-tato di jarinya ikut bernafas saat tangan kirinya mengangkat sendok. 

ambidextrous? Pikir Yuki. 

 

Yuki bisa melihatnya dengan jelas karena jarak mereka saat ini: Di ibu jari tidak ada simbol besar; Jari telunjuk membawa simbol yang paling sering terlihat, angka 2; Jari tengahnya tergambar simbol  simbol Phi (Φ), mewakili rasio emas dan juga huruf ke-21 dalam alfabet Yunani; Di jari manis, ada “I”. Angka satu dalam huruf Romawi. Ia baru terlihat jelas ketika Nagumo sedikit memutar pergelangan tangan. Yuki merasa angka itu terasa ironis—satu berada di jari yang biasanya dipakai untuk ikatan, tapi di sini ia berdiri sendiri, tidak meminta pasangan; Terakhir kelingking, dengan simbol “%”. Dua lingkaran kecil dan satu garis miring—ringkas, hampir seperti catatan samping. 

 

Detail yang sama terlukis pada jari-jari tangan kanannya. Dua tato persegi panjang tergambar di sisi yang sama pada kedua tangan, referensi lain untuk rasio emas. Phi. The Golden Ratio. Pola. Kecantikan matematis dalam kekacauan. Pikirannya, yang selalu lapar akan pola, tanpa sadar merekam dan mengaitkannya.

 

“Menikmati pemandangannya?” Nadanya yang tak berubah terdengar seolah-olah menggoda  keheningan pagi mereka, memecah fokus Yuki yang sedang memetakan garis hitam di setiap kulitnya.

 

Jeda.

Keheningan setelah pertanyaan itu menyekat pandangan Yuki yang tertangkap basah.

“...Mereka indah,” gumamnya, seolah mencari kata yang tepat, matanya masih tertuju pada tato. 

 

Sendok timah yang tergenggam berhenti di tengah udara. Matanya yang sering berkilat genit, kini terpancar rasa terkejut yang jelas. Nagumo membeku. Rasa familiar itu—perasaan diawasi, dianalisis, dibongkar—biasanya datang sesaat sebelum pertarungan hidup-mati. Kali ini datang dari seorang gadis yang duduk lesu di bawah sofa, dan itu menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam daripada kewaspadaan profesional.

 

“Tato-tatomu. Mereka berdasarkan rasio emas dan barisan Fibonacci, bukan?” Yuki menyatakan, bukan bertanya. “Spiral Fibonacci dan rumus iteratif tak hingga itu… itu representasi elegan dari phi.”

 

Ruang itu menjadi hening. Nagumo menatapnya, dan untuk pertama kalinya, tatapannya bukan tatapan seorang pembunuh kepada target, atau seorang penjaga kepada yang dilindungi. Itu adalah tatapan seseorang yang dilihat—benar-benar dilihat—bagian dirinya yang paling pribadi, yang sengaja ia sembunyikan di balik canda dan kekerasan.

 

Nagumo mendengus. “Tentu kau bisa membacanya” suaranya serak, tangannya kembali bergerak setelah berhenti dalam jeda.

 

“Aku bisa membaca pola,” koreksi Yuki. Namun sebuah pertanyaan tergantung dalam pikirannya: Mengapa seorang pembunuh menyematkan keindahan matematika abadi di kulitnya?

 

gadis ini …  berbahaya.

Nagumo memalingkan wajah, menatap mantel basahnya yang tergantung. Senyum kecil, yang kali ini tidak dipaksakan, muncul di wajahnya. “Kau terus menerus mengejutkanku, Kurosawa-san. Kebanyakan orang hanya melihat coretan atau menuduhku preman.”

 

Rasanya seperti dikuliti hidup-hidup. 

Celah gorden yang menampakkan bulan di kegelapan fajar semakin lama masuk seperti metronom—ritme yang menahan waktu agar tidak meledak. Matanya menatap Yuki, yang kembali makan seolah menelan setiap kata ke dalam mulutnya. 

 

Tapi kenapa aku tak marah?

“Aku suka hal-hal yang konstan,” ucap Nagumo tiba-tiba, sambil menatap luka tato di lengannya. “Dalam dunia yang berantakan dan tidak bisa diprediksi seperti milikku… matematika tidak pernah bohong. Spiral itu akan selalu tumbuh dengan cara yang sama. Rasio emas akan selalu muncul dimanapun ada keindahan atau efisiensi.” Ia menoleh pada Yuki. “Itu bisa diandalkan.”

 

Yuki menelan kata-kata Nagumo. Ia mencari keteguhan. Dalam angka. Dalam pola. Ia memahami itu. Dalam kekacauan pelariannya, dalam retaknya keluarga dan ketidakjelasan moral, otaknya juga selalu berpaut pada logika, pada pola yang bisa dipahami. Itulah satu-satunya hal yang tidak pernah mengkhianatinya.

 

“Aku mengerti,” ucap Yuki, suaranya lirih.

 

Dua kata itu. Aku mengerti.

Mereka bukan sekadar sopan santun. Mereka adalah pengakuan. Sebuah jembatan yang tak terduga terbentang di antara mereka di ruangan sempit dan berdebu ini.

 

Nagumo menatapnya lama. Sorot matanya berubah, menjadi lebih dalam, lebih… tertimbang. Rasa bersalah yang selalu menggerayangi sudut pikirannya sejak membaca berkas JAA terasa semakin berat. Di depannya bukan lagi hanya “Target Kelas S” atau “aset yang harus diamankan”. Ini adalah Yuki Kurosawa, gadis berusia delapan belas tahun yang memecahkan kode paling rahasia dalam empat jam, yang bertahan dari pemburu selama dua hari dengan luka di perut, dan yang bisa melihat keindahan dalam tato di kulit seorang pembunuh.

 

“Apa kau tak akan bertanya akan informasi yang aku punya?” Tanya Yuki setelah jeda sekali lagi diantara mereka. 

 

“Kau tak perlu mengatakannya sekarang” jawab Nagumo, masih mengunyah. “Aku bisa memperkirakan apa yang kau punya. Selain itu aku tak ingin percakapan pagi kita berisi hal-hal yang lebih berat dari sarapan yang kita telan.”




Setelah selesai, Nagumo mengambil piringnya. Saat dia membungkuk, leher kaos dalamnya turun sedikit, memperlihatkan kilasan kulit dan tato di dadanya—sepasang tangan yang terkatup, seolah ingin berdoa. Yuki mengalihkan pandangan.

 

“Aku perlu memeriksa lukamu,” kata Nagumo sambil membersihkan peralatan makan dengan efisiensi tentara, lalu kembali dengan kotak P3K.

“Aku bisa melakukannya sendiri.”

“Bisa,tapi tidak akan sebaik aku.”

 

Yuki menahan napas saat Nagumo mendekat. Dia berlutut di depan sofa, wajahnya serius, semua sikap playful-nya menghilang. Tangannya—tangan yang kemarin mematahkan leher manusia—kini membuka perban dengan lembut luar biasa. Detak jantungnya yang berdegup pelan terasa lebih keras dalam telinga sebelum ia mengabaikannya. Dia mencium aromanya—antiseptik, logam darah lama, dan di bawah itu semua, aroma sabun sederhana dan kain yang baru dicuci. Bau seorang pria yang, bertentangan dengan segala logika, sedang berusaha menyembuhkannya.

 

Sentuhannya dingin, profesional. Tapi ada momen, saat jari-jarinya tak sengaja menyentuh kulit Yuki di pinggir luka, di mana tekanan itu berubah. Menjadi lebih… sadar. Nagumo menghela napas halus, lalu melanjutkan dengan lebih cepat, seolah ingin menyelesaikan ini segera. 

 

“Jahitannya bagus,” bisiknya, lebih kepada diri sendiri. “Tidak ada infeksi.”

“Kau terlatih dalam pertolongan medis?”tanya Yuki, mencoba mengalihkan perhatian dari sensasi aneh di perutnya.

“Terlatih dalam segala hal yang membuat orang tetap hidup—atau mati,” jawabnya sambil membalut kembali luka. Kali ini, dia tidak menatap Yuki. “Di dunia kita, garis antara keduanya tipis.”

 

Dia berdiri, membersihkan tangan dengan antiseptik. “Kita akan pergi dalam satu jam. Pakailah ini.” Dia melemparkan setelan pakaian sederhana—celana hitam dan hoodie abu-abu, hampir mirip seperti yang ia pakai sebelumnya, hanya saja yang ini tak ada noda merah amis diatasnya. “Lebih mudah untuk tidak mencolok.”

 

Yuki mengambil pakaian itu. Dia berbalik sebelum Yuki bisa merespons. “Siapkan dirimu. Aku akan mengamankan perimeter.”

 

Pintu besi berderit pelan saat dia keluar, meninggalkan Yuki sendirian dengan keheningan, pakaian bersih di tangannya, dan sebuah pengakuan yang baru saja mengubah seluruh persamaan dalam pikirannya. Yuki menatap pakaian itu. Ukurannya jelas bukan untuknya, tetapi lebih kecil dari kaos Nagumo yang masih ia kenakan. Milik siapa ini? pikirnya, tetapi tidak menanyakan. Beberapa pertanyaan lebih baik tidak diucapkan. 

 

Mengganti pakaian dengan luka di perut adalah sebuah tantangan. Setiap gerakan memicu nyeri tajam yang membuat giginya bergemeretak. Suara gesekan kain terdengar keras dalam keheningan.



Di luar, Nagumo bersandar di dinding dingin, menatap langit yang masih diselimuti kegelapan pekat. Fajar masih jauh, hanya embun pagi dan kesunyian jam tiga yang menemani. Di sakunya, ponsel burner-nya bergetar sekali—sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Isinya hanya satu kata:

Handler ; Siap.

Jarinya mengetuk cepat satu balasan: Lokasi 2. 1 jam. Lalu ia menghapus kedua pesan itu. Udara dini hari menusuk tulang, tetapi beban rencana di pikirannya terasa lebih berat.